Mimpi Muhammad Qasim
Bandung, 6 Januari 2022
Semua mimpiku sangatlah jelas. Mimpi-mimpi itu seperti terjadi di dunia nyata. Tapi ketika aku terbangun dan tersadar, itu hanyalah sebuah mimpi indah. Kapan pun aku mendapatkan mimpi tentang Allah dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian aku berharap aku dapat melihat mimpi-mimpi seperti itu sepanjang waktu.
Warna-warna yang aku lihat di dalam mimpi, aku belum pernah melihatnya dalam kehidupan nyata. Aku memberi nilai 10 dari 10. Siapapun tidak akan pernah bisa meniru kebesaran dan kemuliaan Allah, begitu juga rupa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Allah Yang Maha Kuasalah yang paling sering hadir dalam mimpiku.
Aku tidak pernah melihat Allah dengan mataku di dalam mimpi. Aku hanya merasakan, bahwa Allah di atas Arsy-il-‘Adzhim dan aku mendengar suara-suara di balik tabir. Suara-Nya terkadang terdengar dari langit atau aku melihat cahaya yang sangat menakjubkan. Terkadang, suara yang luar biasa akan datang dari cahaya yang menakjubkan.
Setiap kali aku melihat cahaya-Nya, mataku terpana. Cahaya itu sulit untuk digambarkan. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa cahaya itu merupakan Allah, melainkan cahaya Allah adalah semacam cahaya dengan kemegahan yang Allah ciptakan. Allah jauh dari luar segala sesuatu, untuk digolongkan sebagai nur dan Dia adalah Sang Pencipta cahaya. Bahkan suara Allah sangatlah
mengagumkan, suara itu terasa berisi banyak rahmat dan kemurahan yang sangat sulit digambarkan dalam kata-kata. Suara Allah jauh lebih mulia daripada suara manusia manapun dan suara itu tidak memiliki kelemahan kehabisan nafas saat berbicara.
Dalam setiap mimpi, aku merasa bahwa Allah sangatlah dekat denganku dibanding dengan bagian depan otakku serta urat nadiku. Allah tidak pernah berbicara keras kepadaku. Dia tidak pernah menaikkan suara-Nya dalam kemarahan atau berbicara kepadaku dengan cara marah. Allah selalu berbicara denganku secara lembut dan damai, meskipun aku berbuat dosa yang tak terhitung setiap hari. Allah dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah memaksaku untuk mengikuti ajaran mereka. Itulah kenapa aku sangat mencintai Allah dan Nabi Muhammad lebih dari segalanya.
Allah dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbicara denganku dalam bahasa urdu, jenis bahasa ini merupakan bahasa utamaku. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah nabi dan utusan terakhir-Nya, dan aku hanya bagian dari umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Aku bersaksi bahwa laknat Allah berlaku untuk pendusta.