NAWAZ SYARIF AKAN WAFAT

Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku

Bandung, 22 Maret 2022

Aku (Qasim) melihat mimpi ini pada 04 Mei 2018. Dalam mimpi ini, aku melihat bahwa mantan perdana menteri Pakistan Nawaz Sharif, telah hilang kelayakan dan beliau mengadakan perhimpunan besar di seluruh negara dan membantah dengan slogannya yang terkenal, “Mujhe kiyu nikala,” yang bermakna “Mengapa anda telah men-diskualifikasikan saya? Ini adalah ketidak adilan dan ini bukan (langkah yang tepat) bagaimana anda mengurus administrasi negara. Saya sedang menjadi target suatu makar yang disiapkan dengan matang. Saya tidak akan berputus asa.”

Maryam Sharif, anak perempuan Nawaz Sharif, juga bersamanya dan membantah dengan cara yang serupa. Orang-orang mengejek ucapan Nawaz sharif dan menertawai mereka (berdua). Mereka juga menentang pendiriannya dan membalasnya, tapi Nawaz Sharif masih tidak mundur. Kemudian aktivitas politik Nawaz Sharif mulai semakin terbatas dan ucapannya tidak disiarkan sama sekali. Banyak orang meninggalkan partai politiknya sehingga membuat lebih banyak masalah dan kesulitan untuk
dirinya. Disebabkan hal tersebut dia mendapat banyak tekanan batin dan tidak dapat memikirkan bagaimana jalan keluar dari keadaan yang sukar itu.

Nawaz Sharif kian kehilangan kuasa tetapi dia terus memprotes lebih dari itu. Kemudian dia mengucilkan diri dari rumahnya dan mulai merekamkan protes dari sana, bahwa ketidak adilan sedang dilakukan kepada dirinya. Nawaz Sharif mengatakan bahwa “Tidak ada siapa pun pihak yang boleh menghalangi saya. Dan saksikanlah, meski duduk di rumah, saya masih menghantarkan pesan saya ke seluruh dunia.”

Dia (Nawaz Sharif) mengatakan bahwa mereka (lawan politiknya) tidak melakukan perkara yang benar dengan membatasi aktivitasnya. Sedangkan Maryam Sharif tetap berdiri dengan sang ayah (Nawaz Sharif), untuk menyokong ayahnya sepenuhnya.

Banyak orang menyatakan perasaan mereka terhadap Nawaz Sharif, oleh sebab karena beban mental dan kesehatan (Nawaz Sharif) mulai merosot, aku (Qasim) terus mengawasi semua keadaan itu dan kemudian aku melihat Nawaz sharif pergi ke dalam kamarnya. Di sisi lain, Maryam Sharif, sibuk dengan menghantar pesan melalui internet.

Ada beberapa oknum tertentu memanfaatkan situasi buruk tersebut. Kemudian aku (Qasim) melihat beberapa orang menuju rumah Nawaz Sharif. Aku berkata kepada diriku sendiri bahwa ada sesuatu yang salah dengan hal ini dan aku mulai berlari menuju rumah Nawaz Sharif. Ketika aku tiba disana, aku mendapati beberapa orang jahat di sebelah rumah, sehingga aku menggunakan pintu masuk yang berbeda untuk memasuki (rumah Nawaz Sharif). Disana terdapat aula besar dan membawa ke lorong yang berlainan, aku mencari jalan yang akan membawaku ke kamar Nawaz
Sharif.

Kemudian aku melihat beberapa komandan tentara datang dari satu pihak dan merasa bahwa sepertinya para tentara itu juga hendak membatnu dan melindungi Nawaz Sharif. Apabila saya menyaksikan semua itu, aku (Qasim) berkata kepada diri sendiri bahwa, “Jika sesuatu terjadi kepada Nawaz Sharif, maka keadaan akan (kacau) lepas kendali.” Itulah sebabnya ada tentara juga berada disini untuk melindunginya.

Komandan tentara juga menuju ke kamar Nawaz Sharif, kemudian tiba-tiba muncul berita bahwa Nawaz Sharif telah mati. Setelah mendengar kabar itu, aku berkata kepada diriku bahwa, “Tentara mungkin telah terlambat tiba di tempat kejadian peristiwa.”

Selepas berjalan, aku tiba di sebuah kamar besar dimana Maryam Nawaz (Sharif) berada dan dia menangis. Lantas ia Maryam Nawaz mengatakan bahwa seseorang telah membunuh ayahnya. Apabila melihat keadaan itu, aku menyatakan kesedihan karena apa yang terjadi adalah sangat buruk. Kemudian aku beredar dari sana.

Aku melihat beberapa orang jahat, tetapi aku berhasil melarikan diri dari tempat itu. Namun pada masa tersebut, berita tentang kematian Nawaz Sharif tersebar ke seluruh negara dan terdapat kekacauan dimana-mana. Musuh-musuh Pakistan mencoba menunggangi kondisi itu dan menyebarkan kerusuhan serta kekacauan dimana-mana, sehingga situasai tidak terkendali dan bahkan tentara tidak dapat mengatasinya.

Adegan dalam mimpi ini sangat menakutkan dan mengganggu. Apabila malapetaka menimpa Pakistan dan keadaan menjadi lebih buruk, maka peristiwa-peristiwa itu terjadi ketika aku menyebarkan melalui mimpiku. Apabila orang-orang menyaksikan peristiwa yang sedang terjadi sebagaimana yang aku lihat dalam mimpi yang aku sampaikan kepada mereka, maka orang-orang seterusnya mulai mengikuti dan mempercayai mimpiku.

Diterbitkan oleh H. Akang Permana, SP. MM

H. Akang Permana, lahir di Bandung, 19 Agustus 1958

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai