Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku
Bandung, 5 April 2022/1443H
Mimpi Muhammad Qasim, tentang pengunduran Imran Khan

Marcheilla Ariesta – 03 April 2022 15:24 WIB

Spanduk bergambar PM Pakistan Imran Khan berada di dekat gedung parlemen di Islamabad, 3 April 2022. (Aamir QURESHI / AFP)
Islamabad: Karier Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dipertaruhkan hari ini, Minggu, 3 April 2022. Ia menghadapi pemungutan suara yang berpotensi menggulingkannya dan menyebabkan ketidakstabilan politik baru di negara bersenjata nuklir itu.
Kelompok oposisi Pakistan bersatu mengajukan mosi tidak percaya terhadap Khan untuk sesi parlemen mulai pukul 11.30 waktu setempat. Jika mereka tetap bersatu, Khan akan jatuh di bawah 172 suara yang dibutuhkan untuk bertahan dari mosi tidak percaya.
BERITA TERKAIT
- Mosi Tidak Percaya Dibatalkan, PM Pakistan Serukan Pemilu
- 6 Tentara Pakistan Tewas dalam Kecelakaan Helikopter di RD Kongo
- Menenun Ayat-ayat Al-Qur’an di Potongan Kayu
- Ribuan Warga Bela PM Pakistan yang Terancam Mosi Tidak Percaya
- Memasuki Usia 25 Tahun, 2 Hal ini Harus Sudah Diperoleh
Sementara itu, di jalan-jalan ibu kota Islamabad, ada banyak polisi dan kehadiran paramiliter, dengan truk-truk kontainer yang digunakan untuk memblokir jalan.
Dilansir dari Malay Mail, oposisi menyalahkan Khan karena gagal menghidupkan kembali perekonomian nasional dan memberantas korupsi. Sementara Khan mengatakan, tanpa menyertai bukti, bahwa langkah untuk menggulingkannya telah diatur Amerika Serikat (AS). Washington membantah hal tersebut.
Oposisi dan analis mengatakan, Khan naik ke tampuk kekuasaan pada 2018 dengan dukungan militer yang kuat. Tuduhan ini dibantah, baik oleh Khan maupun militer.
Tidak ada perdana menteri di Pakistan yang menyelesaikan masa jabatan lima tahun penuh sejak kemerdekaan dari Inggris pada 1947. Beberapa jenderal pernah berkuasa di Pakistan, negara yang selalu berselisih dengan tetangganya yang juga bersenjata nuklir, India.
Selain krisis ekonomi, Pakistan menghadapi beberapa tantangan lain termasuk upaya menyeimbangkan tekanan global untuk mendorong Taliban di negara tetangga Afghanistan untuk memenuhi komitmen hak asasi manusia, sambil mencoba membatasi ketidakstabilan di sana.
Khan kehilangan mayoritas di parlemen setelah para sekutu keluar dari pemerintahan koalisi dan terjadinya serentetan pembelotan di dalam partai berkuasa, Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI).
Surat kabar berbahasa Inggris paling populer di Pakistan, Dawn, mengatakan bahwa Khan “sebaiknya pergi.” Namun, mantan juara kriket itu mendesak para pendukungnya untuk turun ke jalan hari ini menjelang pemungutan suara.
Khan juga mengindikasikan tidak akan menerima hasil pemungutan suara yang tidak menguntungkan dirinya. “Bagaimana saya bisa menerima hasilnya ketika seluruh proses didiskreditkan?” kata Khan kepada wartawan asing di kantornya.
“Demokrasi berfungsi pada otoritas moral – otoritas moral apa yang tersisa setelah kerjasama ini?” lanjut dia.
Menurutnya, apapun yang terjadi, oposisi hanya ingin ia mundir dari kursi kekuasaan. “Langkah untuk menggulingkan saya adalah campur tangan terang-terangan dalam politik domestik oleh Amerika Serikat,” katanya, menyebutnya sebagai upaya ‘perubahan rezim.’
Bilawal Bhutto Zardari, pemimpin oposisi Partai Rakyat Pakistan (PPP) mengatakan, Khan akan berusaha untuk mempertahankan kekuasaan meskipun kehilangan dukungan mayoritas.
“Kami khawatir perdana menteri melakukan beberapa tindakan inkonstitusional untuk menyelamatkan kursinya,” ujar dia.
KiBaca: Ribuan Warga Bela PM Pakistan yang Terancam Mosi Tidak Percaya