ALLAH ﷻ DAN MUHAMMAD ﷺ DI DALAM MIMPI MUHAMMAD QASIM BIN ABDUL KARIM,
Bandung, 12 Juni 2022/1443H

بِسْمِ الَّ لھِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حیمِ
السَّ لامُ عَلیْكُمْ
الْحَمْدُ لِلھِ رَبِّ الْعالَمینَ,
Hanya atas ridha Allah semata, sehingga buku ini tersaji untuk kita semuanya. Uraian mengenai Allah & Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Dalam MimpiMimpiku oleh Muhammad Qasim, pada hakikatnya sudah banyak beredar sebelumnya, baik dalam blog-blog di internet, channel-channel youtube, grup-grup messenger, grup-grup whatsapp, facebook hingga twitter, sudah tersedia. Sehingga amat mudah untuk dicari keberadaannya. Begitu pula rangkuman mimpi-mimpi Qasim sudah disusun sebelumnya oleh beberapa orang hamba Allah.
Jadi buku ini hanya merupakan pembaruan dari buku-buku yang telah terbit sebelumnya.
Apa yang baru dalam buku ini hanyalah berupa perbaikan ejaan-ejaan, perbaikan istilahistilah, perbaikan tata bahasa yang disesuaikan ke dalam dialektika Indonesia, penambahan gambar ilustrasi dan beberapa foto tokoh, editing kalimat yang rancu (penghilangan ambigu). Serta dihias agar menarik, supaya mood para pembaca tidak cepat lelah sewaktu menyimak. Adapun beberapa kalimat “terpaksa,” untuk dibiarkan apa adanya karena sulit untuk diterka bagaimana maksud sebenarnya, anda akan menemukannya setelah membaca isi buku ini.
Andai para pembaca tidak mengenal siapa itu Muhammad Qasim sebelumnya, dan apa bahasa kesehariannya, perlu dipahami bahwa bahasa asli Qasim adalah bahasa urdu yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Setelah ada terjemahan Inggris, diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Melayu. Dari bahasa Melayu, dikonfersi lagi menjadi bahasa Indonesia. Setelah itu kemudian diperbaiki lagi struktur kalimat-kalimatnya, agar semakin mudah dipahami masyarakat Indonesia pada umumnya.
Terus terang, isi dalam buku ini dibandingkan dengan versi sebelumnya, ada beberapa perbedaan. Hal ini dimaksudkan agar kita cukup fokus saja kepada apa yang Muhammad Qasim sampaikan. Agar tidak rancu, antara mana yang dari Qasim dengan mana yang merupakan pendapat dari orang lain. Mengenai tambahan dari pihak lain in syaa-a Allah akan disertakan ke dalam buku selanjutnya, oleh sebab perlu direvisi ulang. Pun dalam buku ini masih ada sedikit hal yang merupakan tambahan dari pihak lain yang memang terpaksa dibiarkan agar tetap ada, sebab terkadang ada kalimat-kalimat yang sukar dibedakan mana yang merupakan tambahan.
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku |
Buku ini jauh dari kata sempurna bahkan belum lengkap. Sebab masih banyak mimpi-mimpi Qasim yang belum terangkum. Kurang dari itu, total keseluruhan mimpi Qasim ada lebih dari 800 mimpi. Jadi amat sukar untuk dibukukan. Tapi in syaa-a Allah, beberapa mimpi yang tersusun dalam buku ini dapat menjadi bekal yang in syaa-a Allah memadai.
Metode pe-warna-an dalam buku ini dimaksudkan agar kita lebih terfokus serta mengingat isi yang disampaikan, selain berfungsi juga sebagai make up. Adapun foto wajah Qasim mau tak mau disertakan agar orang yang belum mengenal menjadi paham, bukan bermaksud menodai privasi Qasim. Pun bila muncul anggapan mengganggu privasi seseorang (bukan su’udzon melainkan sekedar memaparkan alasan dasar), foto bahkan rekaman video Muhammad Qasim terlebih dulu ada sebelum lahirnya buku ini. Amat banyak, mulai dari koran, sosial media, bahkan ada beberapa wawancara di televisi Pakistan telah memuat beritanya.
Penting disimak & dipahami sebelum melangkah ke dalam isi, bahwa setiap hal yang terlontar dari mulut, disebut dengan “perkataan” atau “bicara” atau “ucapan,” atau bahkan “suara.” Secara keumumannya seperti itu. Kemudian, bila dalam kehidupan masyarakat ada strata atau tingkatan sosial, maka pada ilmu bahasa juga terdapat strata bahasa atau penggolongan daripada suatu perkataan, tentang darimana pernyataan tadi berasal. Jadi tak perlu risau atau ragu, dengan suatu kesalah-pahaman yang berbunyi semisal; “Lho, kalau Allah berfirman, berarti bukankah hal itu mengindikasikan kalau itu adalah wahyu? Bukankah wahyu itu khusus diberikan untuk para Rasulullah?” Maka jawabannya: Benar, tapi anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Sebab perlu kita kaji terlebih dahulu “kontekstualnya” bukan sebatas “tekstualnya.” Kita perlu melihat kondisi, kepada siapa Allah berfirman beserta fungsi dari firman tersebut. Ulasannya sebagaimana berikut:
- Ketika Allah berkata, kata ganti verbalnya menjadi Allah berfirman.
- Ketika Nabi Muhammad berkata, kata ganti verbalnya menjadi Nabi Muhammad bersabda.
- Untuk subjek pembicara selain Allah atau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka tidak perlu menggunakan kata ganti verbal. Contoh: Seseorang berkata. Maka penulisan dan pengucapannya tetap seseorang berkata.
- Untuk peng-istilahan kata ganti verbal dari hewan, maka tidak disebut hewan ini berbicara melainkan hewan ini bersuara.
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku |
Contohnya sebagaimana di bawah ini:
a. Contoh pertama:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Hammam dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Surga dan neraka berbantah-bantahan.” Neraka berkata: “Orang-orang congkak dan sombong memasukiku.” Surga berkata: “Sedangkan aku, tidak ada yang memasukiku selain orang-orang lemah, yang hina dalam pandangan manusia.” Lalu Allah berfirman kepada surga: “Kau adalah rahmatKu, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu.” Kemudian Allah berfirman kepada neraka: “Kau adalah siksaKu, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki. Dan masing-masing dari keduanya ada isinya.” Sedangkan neraka tidak terisi penuh hingga Allah meletakkan kakiNya kemudian neraka berkata: “Cukup, cukup.” Saat itulah neraka penuh dan sebagiannya menindih sebagian yang lain. Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhlukNya. Sedangkan surga,
Allah menciptakan penghuninya.”
Hadist Riwayat Bukhari 4472. Derajat Hadist: Shahih
Kita melihat pada hadist di atas, bahwa ada kalimat “Allah berfirman kepada surga” dan ada kalimat “Allah berfirman kepada neraka.” Maka jangan disalah artikan bahwa neraka dan surga menjadi nabi hanya karena Allah telah berfirman kepada mereka berdua.
b. Contoh selanjutnya:
Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad telah memberitakan kepada kami Tsabit dari Anas bin Malik dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Yang terakhir kali masuk surga adalah seseorang yang sesekali berjalan, sesekali merangkak dan sesekali api menghanguskannya.
Ketika telah melewati shirath, ia menoleh kepadanya seraya berkata; “Maha Suci Yang telah menyelamatkanku darinya, sungguh Allah telah memberiku sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seorang pun dari awal sampai akhir.” Lalu sebuah pohon diangkat untuknya, ia pun berkata; “Wahai Rabbku, dekatkanlah pohon ini hingga aku dapat bernaung di bawah naungannya dan meminum airnya.”
Maka Allah berfirman kepadanya: “Wahai anak Adam, semoga selalu kepadaKu, jika Aku memberikannya kepadamu, maka kamu akan meminta yang lain kepadaKu.”
Ia pun berkata; “Tidak wahai Rabbku.” Dan ia membuat perjanjian kepadaNya untuk tidak meminta yang lainnya kepadaNya.”
Beliau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melanjutkan: “Sedangkan Rabbnya adalah Maha Perkasa lagi Maha Tinggi, Dia memaafkannya karena ia melihat sesuatu yang membuat ia tidak bersabar atasnya. Maka pohon itu didekatkan kepadanya hingga ia dapat bernaung di bawah naungannya dan meminum airnya, kemudian diangkat pohon yang lebih indah dari yang pertama untuknya.
Ia pun berkata; “Wahai Rabbku, (dekatkanlah) pohon ini hingga aku dapat meminum airnya dan bernaung di bawah naungannya, aku tidak akan meminta selainnya kepadaMu.”
Maka Dia (Allah) berfirman: “Wahai anak Adam, bukankah kamu telah membuat perjanjian kepadaKu bahwa kamu tidak akan meminta yang lainnya kepadaKu?” Dia (Allah) berfirman lagi: “Siapa tahu jika Aku mendekatkanmu kepadanya, kamu akan meminta yang lainnya kepadaKu.”
Lalu ia membuat perjanjian kepadaNya untuk tidak meminta yang lainnya kepadaNya, sedangkan Allah Azza wa Jalla memaafkannya karena ia melihat sesuatu yang membuat ia tidak bersabar atasnya. Maka pohon itu pun didekatkan kepadanya hingga ia dapat bernaung di bawah naungannya dan meminum airnya, kemudian diangkat sebuah pohon di dekat pintu surga yang lebih indah dari semua pohon itu untuknya.
Ia pun berkata; “Wahai Rabbku, dekatkanlah pohon ini hingga aku dapat bernaung di bawah naungannya dan meminum airnya, aku tidak akan meminta yang lainnya kepadaMu.”
Maka Dia (Allah) berfirman: “Wahai anak Adam, bukankah kamu telah membuat perjanjian kepadaku untuk tidak meminta yang lainnya kepadaKu?”
Ia pun menjawab; “Benar wahai Rabbku, pohon ini saja, aku tidak akan meminta yang lainnya kepadaMu.”
Dia (Allah) berfirman: “Siapa tahu jika Aku mendekatkanmu kepadanya, kamu akan meminta yang lainnya kepadaKu?”
Lalu ia membuat perjanjian kepadaNya untuk tidak meminta yang lainnya kepadaNya sedangkan Rabbnya memaafkannya karena ia melihat sesuatu yang membuat ia tidak bersabar atasnya. Maka pohon itu didekatkan kepadanya, ketika Dia (Allah) mendekatkannya kepada pohon itu, ia (orang tadi) mendengar suara penghuni surga, ia pun berkata; “Wahai Rabbku, masukkan aku ke dalamnya.”
Maka Dia (Allah) berfirman: “Wahai anak Adam, apalagi yang harus aku singkirkan darimu?
Apakah kamu merasa puas jika Aku memberimu dunia dan yang sepertinya sekaligus?”
Ia bertanya; “Wahai Rabbku, apakah Engkau mengejekku sedangkan Engkau adalah Penguasa Alam semesta?” Maka Ibnu Mas’ud tertawa seraya berkata; “Tidakkah kalian bertanya kepadaku sebab apa aku tertawa? Mereka bertanya; “Sebab apa kamu tertawa?” Ia menjawab; Beginilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tertawa lalu bersabda: “Tidakkah kalian bertanya kepadaku sebab apa aku tertawa?” Mereka bertanya; “Sebab apa engkau tertawa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena Rabbku tertawa ketika orang itu bertanya, “Apakah Engkau mengejekku sedangkan Engkau adalah Penguasa alam semesta?” Maka Dia (Allah) berfirman: “Sesungguhnya Aku tidak mengejekmu tetapi Aku
Maha Kuasa apa yang Aku kehendaki.”
Hadist Riwayat Ahmad 3704. Derajat hadist: Shahih
Maka, dengan melihat Hadist Riwayat Ahmad 3704 di atas, apakah orang terakhir yang masuk ke surga tadi lantas menjadi nabi lantaran Allah telah berfirman kepadanya? Tentu saja tidak. Karena perlu kita kaji terlebih dahulu “kontekstualnya” bukan sebatas “tekstualnya.” Kita perlu melihat kondisi, kepada siapa Allah berfirman, beserta fungsi dari firman itu sendiri.
الْحَمْدُ لِلھِ رََبِّ الْعَالَمینَ,
atas pertolongan Allah semata, sehingga muncul saran dan sebagai kesimpulannya; hal ini menjadi tambahan khazanah ilmu bagi kita seluruhnya, juga menjadi counterattack bilamana ada pihak-pihak yang menuduh bahwa Qasim hendak mengikuti jejak para nabi palsu. Sebab betapa banyak pihak yang mana malah mencemooh tanpa data tanpa dalil tanpa ilmu, selain hanya sebatas dugaan dan bicara hanya karena nafsu. Sebenarnya masih ada beberapa penjelasan lain. Masih banyak. Akan tetapi untuk mempersingkat waktu, in syaa-a Allah cukup sampai bagian ini terlebih dahulu. Sebab bila kita membicarakan ilmu, adalah bagai menciduk air dari dalam sumur.
Dalam buku ini, sengaja ditorehkan warna agar memperjelas, bahwa suatu kalimat tersebut dari siapa pengucapnya. Keterangannya sebagai berikut:
- Untuk firman Allah, menggunakan bold merah tua.
- Untuk sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, menggunakan bold biru tua.
- Untuk ucapan Qasim, menggunakan bold hijau tua.
- Untuk ucapan selain tiga point di atas, menggunakan bold hitam biasa.
Semoga Allah senantiasa merahmati para pihak yang memberi dukungan kepada Muhammad Qasim. Karena tanpa melalui ikhtiar mereka {penerjemahan dari bahasa induknya (Urdu) – bahasa Inggris – bahasa Melayu sebelumnya} akan terdapat banyak rintangan untuk memahami pesan dalam bahasa asli.
Sekian dan selamat membaca,
Wassalamu ‘alaikum
Editor,
Fulan
Indonesia, 2020
https://youtube.com/playlist?list=PLuGblOCSib6yg9oE6yKIWD3NwQh73A-cK