ALLAH ﷻ DAN MUHAMMAD ﷺ DI DALAM MIMPI MUHAMMAD QASIM BIN ABDUL KARIM
Bandung, 25 Juli 2022/1443 H
Dalam sebuah mimpi tanggal 05 Maret 2017, aku (Muhammad Qasim) melihat diriku sedang duduk di dalam Masjid Nabawi. Aku merasakan perasaan sangat baik dan penuh kedamaian karena aku berada di dalam sebuah masjid asli Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang dan beliau duduk di depanku. Di tangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terdapat empat lembaran kertas berukuran besar terbuat dari emas.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadaku dengan sikap yang sangat senang, “Qasim, sampaikan pesanku ini sekali lagi kepada umatku, bahwa siapapun yang mendukungmu adalah seperti orang yang telah mendukungku dan kelak dia juga akan bersamaku pada Hari Pengadilan (Kiamat). Dan Qasim, sampaikan pesanku ini kepada orang-orang yang bersamamu, jangan pernah mereka berpikiran apakah amalan mereka ini tercatat sebagai amal shalih atau tidak, jangan pernah mereka mengira bahwa amalan itu tidak ada nilainya, tidak masalah apa yang dikerjakan bahkan jika seseorang hanya melakukan amalan yang sangat kecil, Allah tidak akan menyia-nyiakannya, dan Allah juga mencatat amal tersebut dengan berkali-kali lipat. Yang mereka lakukan ini bukanlah amalan biasa, dan mereka jangan pernah mengira bahwa aku tidak mengetahui nama-nama mereka dan amal (usaha) mereka. Nama-nama yang telah Allah catat di lembaran-lembaran ini, aku terus-menerus membacanya nama-namanya dan usaha mereka dan apapun amalan yang mereka lakukan Allah memberitahukannya kepadaku. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan apapun, dan mereka akan bersamaku di hari kiamat. Lembaranlembaran kertas emas yang Allah berikan kepadaku ini, aku akan membawanya setiap waktu. Dalam lembaran emas ini dituliskan nama-nama mereka yang akan bersamamu pada masa-masa sulit. Qasim, Islam yang murni akan tersebar ke seluruh dunia dengan pertolongan Allah. Pastikan kau menyampaikan pesanku ini kepada orang-orang tersebut.”
Aku tidak bicara sepatah kata pun, (aku) hanya mendengarkan semua yang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sabdakan. Aku ingin membaca nama-nama yang ada di lembaran tersebut namun aku tidak bisa menggerakkan satu pun bagian tubuhku. Aku juga tidak tahu apakah namaku ada di dalamnya.