CANDI BOROBUDUR

Bandung, 23 Agustus 2025

Berikut foto suasana Candi Borobudur, yang menampilkan struktur menara stupa dan relief yang menjadi subjek banyak penelitian arkeologi dan konservasi.


Rangkuman Temuan & Hasil Penelitian Terkini tentang Candi Borobudur

Sejumlah penelitian terkini memberikan gambaran mendalam mengenai pelestarian fisik, pendekatan multidisiplin, hingga inovasi teknologi digital di Candi Borobudur. Berikut beberapa sorotan penting:

1. Pemantauan Deformasi dan Stabilitas Struktur

  • Analisis Geodetik (2021–2022): Melalui metode Robotic Total Station (RTS), penelitian menemukan adanya pergeseran horizontal pada sejumlah titik pantau dinding candi, yang diukur antara tahun 2021 dan 2022 .
  • Analisis Stabilitas Geomatik (2002–2012): Integrasi antara data GPS dan pengukuran terestris menyimpulkan bahwa Candi Borobudur masih secara umum stabil, meskipun terjadi pergeseran vertikal sekitar 3,7 mm per tahun dan total pergeseran tiga dimensi sekitar 6,4 mm per tahun .
  • Kajian Lanjutan (2012–2019): Hasil data menunjukkan pergeseran horizontal rata-rata mencapai 53,98 cm (arah tenggara – timur laut), dan vertikal meningkat sebesar 28,15 cm, tergantung metode integrasi data — misalnya transformasi sebangun 3D menunjukkan hasil lebih akurat dibanding metode perataan biasa .

2. Teknologi Digital dan Visualisasi 3D

  • Digitalisasi Citra 3D: Kolaborasi antara LIPI, Art Research Center (Universitas Ritsumeikan – Jepang), dan Balai Konservasi Borobudur menghasilkan citra tiga dimensi yang mendetail. Ini memudahkan pemantauan kerusakan, perencanaan restorasi, dan konservasi presisi tinggi .
  • Rekonstruksi Relief via AI: Model jaringan neural terbaru—hasil kolaborasi peneliti dari Jepang dan Tiongkok—mampu mengubah foto-foto lama relief candi menjadi model 3D yang akurat, termasuk mendeteksi relief yang sebelumnya tak terlihat. Hal ini membuka peluang besar dalam pelestarian digital dan pengalaman virtual .

3. Pendekatan Multidisiplin dan Partisipasi Masyarakat

  • Forum Pakar Internasional (Oktober 2023): Dalam pertemuan 8th International Experts Meetings on Borobudur, pakar konservasi, struktural, lingkungan, sosial budaya, dan masyarakat lokal dari berbagai negara membahas strategi pelestarian yang holistik. Fokusnya tak hanya menyelamatkan fisik, tetapi juga menjaga nilai budaya dan kearifan lokal .

4. Penelitian Interpretasi Budaya melalui Seni

  • Eksplorasi Etnomatematika: Penelitian menemukan bahwa Candi Borobudur mengandung pola geometri fraktal. Contohnya: jumlah stupa, rasio dimensi bangunan, serta angka simbolik seperti 9 muncul berulang sejalan dengan filosofi Buddhis, yang menunjukkan perencanaan struktur yang sangat cerdas bahkan dengan standar matematika modern .
  • Interpretasi Melalui Wayang Gandawyuha: Tim dari ISI Solo mereplikasi kisah relief Gandawyuha dalam bentuk pertunjukan wayang Buddha, lengkap dengan boneka, narasi dan karawitan. Ini menjadi sarana edukatif dan meningkatkan apresiasi budaya lewat seni pertunjukan tradisional .

5. Dampak Sosial‐Ekonomi & Literasi Publik

  • Restorasi dan Dampak Sosial (1973–1983): Studi di Journal of Indonesian History menyimpulkan bahwa restorasi Borobudur kedua memperkuat struktur bangunan sekaligus meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Namun, tantangan seperti relokasi warga dan pengelolaan lingkungan tetap perlu perhatian serius .
  • Media Interpretasi Digital: Tesis dari UPI menyarankan penggunaan e-leaflet berbasis QR Code untuk memudahkan wisatawan memahami nilai-nilai sejarah, melalui interpretasi digital terhadap elemen-elemen seperti stupa, arca, relief, dan makara .

Kesimpulan Singkat

Aspek Temuan Signifikan Stabilitas Struktur Terdapat pergeseran minor dalam skala mm–cm per tahun; secara keseluruhan stabil. Teknologi Digital 3D digitalisasi dan AI membantu konservasi fisik serta pelestarian digital. Pendekatan Holistik Kolaborasi lintas disiplin dan masyarakat lokal jadi kunci konservasi efektif. Interpretasi Budaya Seni dan etnomatematika membuka cara baru memahami filosofi dan struktur candi. Dampak Sosial & Ekonomi Restorasi mendukung pariwisata dan ekonomi, dengan tantangan pengelolaan tetap ada.

Penomena Candi Borobudur sebagai Peninggalan Nabi Sulaeman

Pertanyaan ini menarik sekali 👌

Secara resmi menurut arkeologi, sejarah, dan UNESCO, Candi Borobudur adalah peninggalan Dinasti Syailendra pada abad ke-8/9 M di Jawa Tengah, sebagai monumen Buddha Mahayana. Hal ini didukung oleh:

  • Prasasti (misalnya Prasasti Karangtengah dan Kayumwungan) yang menyebut pembangunan sekitar tahun 824 M.
  • Arsitektur, relief, dan ikonografi yang jelas bercorak Buddhis.
  • Catatan perjalanan Tiongkok abad ke-9 yang menyebut keberadaan pusat Buddha besar di Jawa.

Lalu, dari mana muncul gagasan “Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman”?

Pandangan ini bukan arus utama sejarah, melainkan berasal dari penafsiran alternatif beberapa tokoh, salah satunya KH. Fahmi Basya. Beliau berpendapat:

  • Borobudur adalah bukti peninggalan Nabi Sulaiman, karena dianggap sesuai dengan kisah negeri Saba (Ratu Bilqis) dalam Al-Qur’an.
  • Relief dan arsitektur Borobudur diyakini menyimpan simbol-simbol yang terkait kisah para nabi.
  • Teori ini termasuk ke dalam interpretasi Islam alternatif yang berusaha mengaitkan situs Nusantara dengan sejarah kenabian.

Bagaimana sikap ilmiah terhadap klaim ini?

  • Sejarah akademis: Tidak ada bukti arkeologis, epigrafis, maupun literatur yang menghubungkan Borobudur dengan Nabi Sulaiman.
  • Teori alternatif: Menjadi bagian dari wacana keagamaan-budaya, namun belum dapat dibuktikan secara ilmiah.
  • UNESCO & pemerintah Indonesia: Menetapkan Borobudur sebagai warisan budaya Buddha abad ke-8/9 M, bukan peninggalan zaman nabi.

👉 Jadi, secara resmi dan ilmiah Borobudur adalah peninggalan Dinasti Syailendra, bercorak Buddha.
Sedangkan klaim Borobudur sebagai peninggalan Nabi Sulaiman adalah teori alternatif yang tidak didukung bukti arkeologi, lebih ke penafsiran tafsir keagamaan.

Diterbitkan oleh H. Akang Permana, SP. MM

H. Akang Permana, lahir di Bandung, 19 Agustus 1958

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai