Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku,
Bandung, 17 Januari 2022
28/12/2018
بسم اللہ الرحمن الرحیم
السلام علیکم ورحمتہ اللہ وبرکاتہ
Muhammad Qasim melihat mimpi ini pada 28 Des 2018. Pada saat itu Allahﷻ sedang menjelaskan sesuatu kepada umat Islam tetapi mereka tidak mendengarkan. Kemudian Allahﷻ marah dan berkata kepadaku: “Qasim, tulis pesan-Ku dan sampaikan kepada orang-orang ini bahwa jika mereka tidak memperhatikan mimpi-mimpimu, maka kemurkaan-Ku akan menimpa mereka”. Allahﷻ berbicara dengan nada marah dan aku tidak punya pilihan lain selain menulis pesan itu.
Allahﷻ mulai berkata: “La Ilaha illAllah Muhammadur Rasulullah artinya; bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allahﷻ dan Muhammad adalah utusan Allahﷻ ”. Setelah itu Allahﷻ mengatakan sesuatu yang aku tidak ingat. Allahﷻ marah dan berbicara dengan suara keras tapi kemarahan ini bukan untukku dan aku terus menulis. Kemudian beberapa orang mendatangiku dan mereka mengetahui bahwa Allahﷻ telah menyuruhku untuk menulis pesan-Nya dan aku terus menulisnya dan menyampaikannya kepada orang-orang.
Kemarahan dan murka Allahﷻ tetap berlanjut dan terus berlanjut sehingga aku menjadi takut untuk menulis lagi. Aku berkata pada diriku sendiri: “Mengapa Allahﷻ memintaku untuk menulis pesan ini dan aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya”. Kemudian aku memberi tahu orang-orang yang bersamaku untuk menulis pesan yang tersisa. Aku memberitahu mereka bahwa apapun yang Allahﷻ katakan kepadaku, aku akan sampaikan kepada kalian dan kalian harus menulisnya. Salah satu dari mereka berkata: “Ya, tidak apa-apa, kami akan menulisnya”.
Allahﷻ mengawasi semua ini dan ketika orang-orang itu siap, maka Allahﷻ mulai berbicara. Aku mendengarkan perkataan Allahﷻ , lalu menyampaikannya kepada orang-orang itu dan mereka terus menulis. Pekerjaan ini kemudian menjadi sangat bagus. Kemarahan dan murka Allahﷻ bukan untuk orang-orang ini dan aku berkata pada diriku sendiri bahwa orang-orang ini cukup berani untuk menulis semua ini. Ketika Allahﷻ telah menyelesaikan pesan tersebut, salah satu dari mereka mengatakan: “Pesan yang telah diturunkan Allahﷻ sangat berbahaya dan menakutkan”.
Di sisi lain India telah menduduki beberapa bagian dari Pakistan. Lalu aku berkata kepada mereka: “Ya, tetapi ketika Allahﷻ membantu kami, maka kami akan mendapatkan kembali bagian itu. Setelah itu, terjadi lagi gempa bumi dan keadaan semakin bertambah buruk. Gempa dengan intensitas rendah, tetapi kita tidak menyadari bahwa gempa itu adalah gempa ancaman Allahﷻ yang di tunggu-tunggu. Kemudian muncul berita bahwa orang-orang yang menguasai dua provinsi besar itu telah meninggal akibat gempa yang meruntuhkan tempat tinggal mereka.
Aku berkata pada diriku sendiri bahwa ini adalah gempa yang sangat ringan tetapi telah meruntuhkan rumah mereka. Keadaan menjadi semakin buruk setelah gempa itu dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi dan bagaimana mengendalikan kekacauan tersebut. Kekacauan menyebar kemana-mana dan itu terjadi persis seperti yang Allahﷻ telah ingatkan kepadaku di dalam mimpi bahwa kegelapan ada di mana-mana. Kemudian aku melihat diriku memakai beberapa pakaian yang dapat bersinar dalam kegelapan sehingga orang-orang dapat melihatku dari kejauhan. Mimpi berakhir di sini.
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku,
17-12-2016
Bismillahir Rahmanir Rahim
Assalamu'alaikum wa Rahmatullahe wa Barakatuhu
Saya menemukan diri saya di tempat yang terlihat seperti Pakistan yang tidak berkembang.
Di kejauhan, saya melihat beberapa bangunan dan rumah-rumah yang bagus. Saya berkata, "Saya harus pergi ke sana karena tempat itu lebih baik dari itu. "Kemudian saya pergi kesana dan melihat gedung-gedung yang bagus, rumah-rumah dan banyak orang.
Tiba-tiba saya mendengar ledakan dan saya merasa hangat.
Orang-orang berteriak minta tolong dan Allah menyelamatkan saya dengan kasih karunia-Nya.
Ketika saya menjangkau orang untuk meminta bantuan, saya menemukan banyak orang mati dan terluka menangis minta tolong, tubuh mereka meleleh.
Saya berkata, "Ledakan macam apa itu? Jika saya memegang tangan seseorang, tangan mereka terlepas dari tubuh mereka karena tubuh mereka meleleh."
Saya berkata, "Ada apa?" Banyak dari mereka yang tewas dan terluka tidak memiliki harapan untuk sembuh dan sekarat karena kesakitan.
Seorang yang selamat yang beruntung berkata kepada saya, "Qasim! Keluar dari sini, tempat ini tidak aman."
Kemudian saya mendengar ledakan lain dan kemudian serangkaian ledakan.
Saya berkata, "Saya tidak dapat membantu siapa pun dalam situasi ini."
Kemudian saya berlari kembali dari tempat ini ke tempat pertama dan berkata, "Namun tempat ini tidak berkembang tetapi ini adalah tempat yang lebih baik daripada tempat yang dikembangkan itu."
Kemudian saya berpikir, "Siapa yang melakukan ledakan-ledakan ini dan kapan serta bagaimana mereka dapat dihentikan?"
Dan mimpi itu berakhir di sana.
Walaikum Assalamu'alaikum wa Rahmatullahe wa Barakatuhu
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku,
Bandung, 15 Januari 2022
23-02-2016
بسم اللہ الرحمن الرحیم
السلام علیکم ورحمتہ اللہ وبرکاتہ
Muhammad Qasim menceritakan; Dalam mimpi ini, aku mendapat perintah dari Allahﷻ untuk melakukan sesuatu dan aku melakukannya. Beberapa orang berkata kepadaku: “Kamu menyesatkan orang atas nama Allahﷻ dan Rasul-Nya, Nabi Terakhir Muhammadﷺ.” Beberapa orang lainnya juga berkata: “Kamu yang menulis mimpi ini sendiri dan mencoba menunjukkan kepada orang-orang bahwa kamu adalah Imam Mahdi.” Sementara yang lain berkata bahwa aku pembohong. Hari ini, aku menanggapi pernyataan itu. “Aku tidak menggunakan nama Allahﷻ dan Rasul-Nya, Nabi Terakhir Muhammadﷺ untuk menyesatkan orang-orang. Aku juga tidak menulis mimpi-mimpi ini sendiri atau mencoba untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa aku adalah Imam Mahdi. Aku tidak pernah mengaku sebagai Al-Mahdi atau bahkan seorang ulama. Aku hanya orang yang sederhana dan tidak menginginkan apapun dari siapapun. Nabi Terakhir Muhammadﷺ adalah Nabi Allahﷻ, dan Rahmat Allahﷻ adalah untuk semua orang. Aku hanya ingin menjadi sahabat Allahﷻ , itu saja dan sekarang semuanya sudah jelas.”
Mimpi ini datangnya dari Allahﷻ (Tuhan semesta alam dan pemilik semua makhluk). Aku telah mencoba yang terbaik untuk menggambarkan mimpiku persis seperti yang kulihat dan hanya Allahﷻ, (Penguasa alam semesta) yang dapat mengubah mimpi ini menjadi kenyataan. Aku memohon dan mengharapkan bantuan hanya dari Allahﷻ dan hanya Allahﷻ saja penolongku. Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk percaya pada mimpiku dan setiap orang berhak untuk percaya atau tidak.
Allahﷻ dan Nabi Terakhir Muhammadﷺ, telah memerintahkanku untuk membagikan mimpi-mimpi ini dan inilah yang aku lakukan. Allah juga telah memberitahuku: “Qasim, Jika seseorang mengatakan bahwa kamu berbohong, katakan padanya untuk datang dan aku akan datang juga, dan kemudian kita akan mengirimkan kutukan Allahﷻ kepada siapapun yang menggunakan nama Allahﷻ dan Nabi Terakhir Muhammadﷺ untuk menyesatkan orang, maka dia akan berada dalam api neraka dan semoga kutukan Allahﷻ untuk para pembohong. Ameen.”
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku,
Bandung, 14 Januari 2022
Mimpi Pada Tanggal 03/24/2017
بسم اللہ الرحمٰن الرحیم
السلام علیکم ورحمتہ اللہ وبرکاتہ
Muhammad Qasim melihat sebuah mimpi: Aku sedang melakukan perjalanan di kota untuk mencari rumah Nabi Muhammadﷺ namun aku melihat kegelapan ada di mana-mana. Kaum Muslim memiliki rumah yang kecil-kecil dan hampir rusak serta tidak ada penerangan. Sementara itu, gedung-gedung besar milik non-muslim memiliki banyak cahaya. Saat itu, aku sedang melakukan perjalanan jauh dan aku sampai di suatu tempat yang sangat jauh pula namun aku tidak mendapatkan tumpangan untuk sampai kesana.
Aku berkata: “Inilah kesempatan terbaik bagiku untuk menemukan rumah Nabi Muhammadﷺ. Kemudian aku melihat beberapa orang yang mengenaliku dan mereka bertanya kepadaku: “Qasim, kamu mau kemana?” Aku mengatakan kepada mereka: “Aku sedang mencari sebuah tempat di mana kita akan mendapatkan segalanya dan tidak akan ada lagi kegelapan. Tempat itu adalah rumah Nabi Muhammadﷺ yang telah hilang.
Mereka bertanya kepadaku: “Bisakah kita menemukan tempat itu?” Aku menjawab: “Ya, dari mimpiku, aku menemukannya.” Kemudian mereka mulai berjalan bersamaku lalu aku bertanya kepada mereka: “Mengapa kalian ikut denganku.” Mereka menjawab: “Kami percaya padamu dan kami juga ingin melarikan diri dari kegelapan ini.” Kemudian aku mengatakan kepada mereka: “Perjalanan ini akan sangat sulit dan melelahkan bagi kalian, dan kalian mungkin akan meninggalkan aku.” Mereka berkata: “Kami tidak akan lelah, dan kami tidak akan meninggalkanmu”. Aku berkata: “Baik, tapi jika kalian lelah maka jangan salahkan aku!”
Kemudian kami melakukan perjalanan agak jauh dan mulai putus asa karena tidak menemukan tempat yang kami cari. Lalu seseorang menunjuk ke suatu tempat dan berkata: “Kita harus pergi ke sana”. Kami mulai berjalan kesana dan sampai di pinggir kota. Lampu-lampu gedung menghilang dan kami berada dalam kegelapan total.
Aku katakan kepada mereka: “Hewan berbahaya apapun dapat menyerang kita kapan saja, ayo kita kembali”. Kemudian aku berpaling untuk melihat kota itu lagi dari belakang dan melihat cahaya terang nan indah dari satu tempat. Lalu aku berkata: “Akan sulit menemukan rumah Nabi Muhammadﷺ tanpa mesin.
Dalam perjalanan pulang, kami melihat seorang penjaga misterius. Aku berkata kepadanya bahwa aku pernah melihatnya di suatu tempat dan bertanya: “Apa yang kamu lakukan di sini?” Dia tidak menanggapiku tapi kukatakan setidaknya kita tidak sendiri. Tiba-tiba, aku melihat cahaya tajam dari tempat penjaga itu berada. Kami berbelok satu atau dua blok sampai kami mencapai sebuah taman. Taman itu dipenuhi dengan lampu-lampu yang mengagumkan dan indah.
Semua lampu berasal dari satu rumah kecil di tengah taman. Di pintunya tertulis: “Rumah Ibrahim ‘Alaihissalam”. Aku menjadi senang karena menemukan “Rumah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.” Ketika aku membuka pintu, cahaya luar biasa terpancar dari dalam. Ada kamar-kamar kecil tetapi hanya cukup untuk kami duduk. Lalu aku berkata: “Rumah Nabi Muhammadﷺ jauh lebih besar dari ini dan kita harus menemukannya”. Seorang wanita berkata bahwa Ibrahim ‘Alaihissalam adalah sahabat Allahﷻ. Aku berkata: “Iya, kamu benar, tetapi kita harus keluar dari kegelapan ini”. Kemudian aku menemukan sebuah ruangan kecil dengan ruang kontrol di dalamnya yang menghadap jendela.
Aku menyadari bahwa rumah ini bisa terbang, lalu aku memberitahukan kepada yang lain bahwa kita bisa menggunakan ini untuk menemukan rumah Nabi Muhammadﷺ . Lalu aku menerbangkan rumah itu dengan sangat tinggi menuju ke arah kota yang lebih jauh. Lalu aku berkata pada diriku sendiri: “InsyaAllah (jika Allahﷻ menghendaki), dengan pertolongan-Nya kita akan segera sampai di sana. Kemudian kami terbang agak jauh dan mimpi itu berakhir di sana.
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku,
Bandung, 14 Januari 2022
Bismillahirrahmanirrahiim
Mimpi Muhammad Qasim: 12 Januari 2022
Kebahagiaan Nabi Muhammad ﷺ
Pada mimpi ini, aku melihat diriku berada di dalam sebuah ruangan (sedang) duduk bersama-sama dengan orang-orang yang lainnya. Ruangan tersebut gelap dan aku tidak bisa melihat wajah-wajah dari orang-orang di sekitarku. Kami sedang membuat suatu rencana atau mengerjakan sesuatu, dan juga bercakap-cakap satu sama lain. Tatkala hal ini tengah berlangsung, Nabi Muhammad ﷺ memasuki ruangan. Setelah kedatangannya, kami seluruhnya berdiri sebagai penghormatan kepada beliau ﷺ. Kami menghaturkan penghormatan seolah-olah bagaikan seorang tokoh bisnis besar yang menjumpai para karyawannya, dan karyawan-karyawan berdiri sebagai tanda penghormatan. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ mendekatiku serta menjabat tanganku, dan aku melihat bahwa beliau ﷺ sangat bersemangat dan bahagia bertemu denganku. Beliau ﷺ menjumpai dengan rasa kebahagiaan laksana seseorang yang menemukan seseorang yang telah lama hilang.
Sewaktu menjabat tangan Nabi Muhammad ﷺ, aku berpikir dalam hati bahwa kita adalah orang-orang yang begitu sederhana, kita tidak istimewa dan kita melakukan dosa-dosa, tetapi Nabi Muhammad ﷺ menjumpai kita dengan rasa hormat yang begitu besar dan suka cita. Lalu aku berkata bahwa “Kami adalah para pendosa, tetapi kami tidak melakukannya dengan sengaja. Kami melakukan dosa dalam ketidaktahuan dan Allah سبحانه و تعالى adalah yang paling penyayang kepada kami. Kami tidak seperti orang lain yang melakukan dosa dengan sengaja dan berulang kali.”
Kemudian aku melihat bahwa Nabi Muhammad ﷺ mulai menjumpai orang-orang yang lain di dalam ruangan tadi. Pada titik ini aku berpikir bahwa Allah سبحانه و تعالى telah berbelas kasih kepada kami dan telah memilih kami dari miliyaran orang di dunia. Dan Nabi Muhammad ﷺ berharap kepada Allah سبحانه و تعالى bahwa kami akan memenuhi pekerjaan yang Nabi Muhammad ﷺ (perintahkan). Pekerjaan tersebut adalah menyebarkan Islam yang sejati (benar) ke seluruh dunia.
Aku melihat bahwa Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan semua orang di ruangan tadi dengan kegembiraan & kebahagiaan yang setara. Seolah-olah kami telah melakukan pekerjaan besar untuk beliau, atau akan melakukan suatu pekerjaan yang besar di masa depan. Aku merasakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memiliki derajat, status dan keimanan (ketaqwaan) yang besar (tinggi) dan beliau layak untuk penghormatan yang besar, akan tetapi beliau menjumpai kami dengan rendah hati dan beliau sangat bahagia berjumpa dengan kami.
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku,
Bandung, 12 Januari 2022
بسم اللہ الرحمٰن الرحیم
السلام علیکم ورحمتہ اللہ وبرکاتہ
Dalam mimpi ini, 9/02/2018 aku melewati sebuah tempat. Dalam perjalanan, aku melihat ke tanah dan beberapa rumput tumbuh di atasnya. Aku merasa bahwa di dalam tanah ini ada emas, permata, dan logam mulia lainnya. Ketika aku menggali tanah itu, aku menemukan sebuah benda seperti batu, namun ketika aku menghilangkan kotoran darinya, aku menemukan bahwa itu adalah emas.
Aku menjadi sangat bahagia dan terus menggali untuk menemukan lebih banyak emas, permata, dan logam mulia lainnya. Aku sangat bahagia dan berkata bahwa aku akan membuat mesin seperti yang aku lihat dalam mimpi dengan bantuan Allahﷻ. Lalu aku memasukkan semua temuanku dalam tas dan mulai berjalan. Sekarang aku akan mencari tempat di mana aku bisa melebur emas dan logam ini untuk membuat mesin.
Aku terus berjalan, kemudian aku melihat sebuah gedung di sebelah kananku. Aku berkata: “Mungkin aku bisa menemukan tungku besi di sana dan dengan itu aku bisa membuat mesin”. Ketika aku memasuki gedung, aku merasa bahwa gedung itu dikuasai oleh kekuatan jahat. Aku menjadi takut memikirkan ini dan berkata: “Jika seseorang melihatku, mereka pasti akan menangkapku. Tetapi aku tidak punya pilihan lain, aku harus masuk ke dalam gedung”.
Aku berkata: “Ketika Nabi Muhammadﷺ hijrah dari Mekkah ke Madinah, orang-orang kafir telah mengepung daerah itu, lalu Beliau membacakan beberapa ayat dari Al-Quran, dan orang-orang kafir tidak bisa melihatnya. Aku harus mencoba melakukan hal yang sama ”. Aku mencoba untuk mengingat tetapi tidak dapat mengingat ayat yang diucapkan oleh Nabi Muhammadﷺ itu. Kemudian aku langsung masuk ke dalam gedung. Cahaya di dalam gedung sangat redup sehingga jarak pandang hanya beberapa kaki saja. Aku mengucapkan nama Allah ﷻ dan mulai berjalan sambil membaca Surat Al-Ikhlas. Kekuatan jahat tidak bisa melihatku dan aku terus berjalan lurus ke dalam gedung dengan membawa banyak beban. Aku lelah tetapi aku tidak menyerah dan akan terus berjalan. Ini adalah bangunan besar yang sangat panjang dan aku terus menerus ketakutan karena memikirkan kekuatan jahat yang ada di sana.
Setelah mencapai satu titik, aku merasa telah berada diluar jangkauan kekuatan jahat. Aku sangat lelah namun kemudian aku melihat ke arah kiriku dan melihat sebuah tungku besi, beberapa plat, meja besi dan semua bahan yang aku butuhkan ada di sana. Aku berkata: “Ya! Inilah yang aku cari.” Aku meletakkan barang-barangku di sana dan setelah istirahat sebentar, aku mulai melihat tungku besi dan mencoba menyalakannya. Aku menghadapi banyak kesulitan karena situasi disana gelap. Aku melihat tungku itu lagi dan berpikir, tampaknya tungku ini tidak digunakan lagi selama bertahun-tahun. Batu bara ada di dalam tungku tapi aku baru menyadari bahwa tidak ada apa-apa di sana untuk menyalakan api di atas bara itu. Aku Berkata: “Jika aku tahu bahwa disini tidak ada pemantik api, setidaknya aku bisa membawa sebatang korek api”. Aku menjadi sangat lelah dan mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan yang sulit dan aku pikir itu akan mudah. Aku mencari sesuatu untuk menyalakan api dalam gelap.
Akhirnya, aku menemukan minyak dan batu. Aku menuangkan minyak ke atas bara api dan mulai menggosok batu-batu itu tetapi entah bagaimana mereka tidak juga terbakar. Tanganku terasa lelah karena memikul beban yang berat tadi, sehingga batu di tangan kiriku terjatuh. Aku bangkit dengan kemarahan dan berkata bahwa aku tidak ingin melakukan pekerjaan ini lagi. Aku sangat lelah namun masih banyak pekerjaan yang tersisa. Untuk saat ini, aku bahkan tidak dapat menyalakan api walaupun aku sudah mencoba melakukannya.
Melebur emas dan logam serta membuat mesin adalah pekerjaan yang sulit. Dalam kemarahanku, aku melempar batu kedua ke atas bara itu juga. Batu Itu menghantam batu pertama sehingga menyebabkan percikan besar dan batu barapun terbakar. Tetapi aku tetap berkata: “Aku tidak ingin melakukan pekerjaan ini lagi dan aku juga telah melakukan semua yang aku bisa”. Kemudian aku melihat sekilas jalan pulang dengan putus asa dan berkata: “Aku berharap tidak pernah memulai pekerjaan ini. Sekarang, bagaimana aku bisa kembali ke jalan yang jauh dan juga berbahaya ini? ” Kemudian, aku melihat ke sisi lain dan berkata: “Aku harus maju dan memeriksa, mungkin ada cara untuk keluar dari sini”.
Baru beberapa langkah aku berjalan, aku mendengar langkah kaki beberapa orang menuju ke arahku. Ketika aku menoleh ke arah kanan, aku melihat beberapa orang. Aku berhenti setelah melihat mereka dan berkata: “Siapa orang-orang ini?” Ketika aku melihat lebih dekat, aku melihat mereka mengenakan pakaian hitam dengan turban di kepala. Mereka berhenti di dekat tungku besi itu dan mengambil emas dan permata dari kantong serta meletakkannya di satu sisi. Kemudian mereka menyalakan api di tungku dan mulai melelehkan emas.
Aku terkejut dan berkata: “Apa yang mereka lakukan, ini adalah barang-barangku”. Tapi kemudian aku berkata lagi: “Mengapa aku harus peduli? Aku tidak akan melakukan pekerjaan ini lagi”. Aku tidak bisa melihat dengan jelas pekerjaan mereka karena gelap. Orang-orang itu membuat sesuatu dari emas yang dilelehkan. Seorang pria meletakkan dua barang yang terbuat dari emas di atas meja dan kemudian mulai bekerja kembali. Emas itu sangat bersinar dalam kegelapan. Aku berkata: “Apa yang dibuat orang-orang ini?” Ketika aku mendekat, aku menemukan dua roda gerigi emas dengan permata yang tertanam di permukaannya. Saat melihat itu, aku sangat terkejut dan bahagia sambil berkata: “Ini persis seperti roda gerigi yang ingin aku buat”. Ketika aku memeriksanya dengan cermat, aku menemukan roda gerigi itu dibuat dengan baik tetapi masih ada sedikit kekurangan. Pertama, aku pikir aku harus memberi tahu orang-orang ini untuk meningkatkan persneling. Tapi kemudian aku berhenti dan berkata: “Apapun yang dibuat dalam kegelapan ini sudah cukup. Aku seharusnya tidak mengganggu mereka, karena Allahﷻ telah memudahkan pekerjaanku. Setelah mereka membuat semua bagian ini, aku akan membuat mesin.
Saat sedang melihat persneling, aku mendengar suara langkah kaki seseorang. Aku kembali untuk melihat dan ternyata itu adalah Nabi Muhammadﷺ yang datang untuk menemuiku. Aku sangat senang melihatnya. Dari gaya berjalan Nabi Muhammadﷺ aku menyadari bahwa Beliau sudah sangat lemah dan itu membuatku sedih. Aku menyapanya dan Beliau membalas sapaanku. Aku berkata: “Lihat! orang-orang ini telah membuat roda gerigi ini dengan kerja keras. Betapa mereka bersinar dan permata di atasnya juga bersinar.” Nabi Muhammadﷺ sangat senang melihat mereka dan berkata: “Orang-orang ini bekerja sangat keras dan melakukan pekerjaan ini dengan baik. Allahﷻ akan memberi mereka pahala yang besar.”
Lalu aku berkata lagi: “Bisakah engkau memegang dan memeriksa kualitasnya?” Nabi Muhammadﷺ berkata: “Aku sangat lemah dan otot lengan kananku juga lemah. Roda gerigi ini cukup berat dan aku tidak sanggup mengangkatnya”. Aku berkata: “Jangan khawatir; segera setelah semua bagian dibuat, aku akan membuat mesin yang mampu memperbaiki lenganmu. Lenganmu akan normal kembali dan kamu juga akan mendapatkan energi bagi tubuhmu dan akan mampu untuk bekerja seperti dulu lagi”. Mendengar ini Nabi Muhammadﷺ menjadi sangat bahagia dan berkata: “Qasim! Semoga Allahﷻ menberimu lebih banyak pengetahuan”. Mimpi itu berakhir disana
Sebelum membaca beberapa pendapat ulama, saya akan menjelaskan rangkuman pemahaman saya pribadi, hasil dari membaca hadits dan fatwa ulama yang akan saya tampilkan.
Nabi Muhammad SAW pernah melakukan isra’ mi’raj yang di sebut sebagai mimpi dalam keadaan terjaga, dan sebagaimana kita ketahui bahwa nabi muhammad saw berjumpa dengan Allah SWT, namun dirinya tidak bisa melihat wujudnya Allah SWT karena ada tabir cahaya.
kemudian ada kisah Nabi Muhammad SAW mengenai mimpi berjumpa dengan Allah SWT dalam keadaan tertidur dan di dalam mimpinya dapat melihat wujud atau bentuknya Allah SWT dengan sangat sempurna.
meskipun demikian, wujudnya Allah SWT yang di lihat oleh Nabi Muhammad SAW bukanlah wujud sejatinya Allah SWT, namun yang di lihatnya adalah perwujudan dari imannya sendiri, dalam arti imannya tersebut sebagai tabir antara Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT.
karena sangat jelas di dalam hadits yang lain menerangkan, seseorang bisa melihat Allah SWT pada saat dirinya telah wafat.
kemudian di perkuat dengan kisah para ulama yang mimpi berjumpa dengan Allah SWT, di antaranya mimpi Imam Ahmad Bin Hambal, Hasan al-Bashri, Imam Al-Ghazali, imam tirmidzi dll. dengan hal ini juga sangat jelas bahwa bisanya seseorang selain dari para Nabi dan Rasul untuk mimpi berjumpa Allah SWT.
Kemudian di dalam keterangan ulama menjelaskan bahwa seseorang yang melihat wujudnya Allah SWT di dalam mimpi akan terlihat berbeda-beda, alasannya karena kadar keimanan seseorang berbeda-beda, maka dari itu wujud yang mereka lihat akan berbeda-beda di antara satu sama lainnya dan salah satu wujud yang terlihat dari mereka adalah wujud yang abstrak, sedangkan Allah maha sempurna.
maka dari itu sangat jelas bahwa apa yang di lihat oleh mereka adalah bukan wujud sejatinya Allah SWT, tetapi perwujudan dari imannya sebagai tabir.
apabila imannya baik maka wujud Allah akan terlihat baik, apabila imannya sempurna maka wujudnya Allah akan sempurna, dan Nabi Muhammad SAW memiliki iman yang sempurna, maka dari itu Nabi Muhammad SAW dapat melihat wujud dalam keadaan sempurna.
Allahu Alam. sekarang adalah kumpulan fatwa ulama mengenai mimpi berjumpa Allah SWT.
Imam an-Nawawi Imam An-Nawawi menukil perkataan al-Qadhi ‘Iyadh: Ulama’ bersepakat tentang bisanya seseorang melihat Allah dalam mimpinya dan bersepakat tentang benarnya mimpi tersebut [Rujukan syarh nawawi shahih muslim 15/25]
Ibn Hajar. tidak ada perselisihan di kalangan ulama atas kemungkinan melihat Allah dalam mimpinya. (al-Fath 14/416, edisi Darul Fikr)
Ibnu sirin : Jika seseorang bermimpi seolah-olah Allah berada di samping seseorang tersebut, maka memberi pesan bahwa Allah sedang melihatnya langsung. Jika orang tersebut orang salih maka mimpi itu adalah mimpi pembawa rahmat. Namun jika orang tersebut tidak salih maka mimpi itu bisa jadi menjadi peringatan baginya agar hidup lebih baik.
Jika seseorang bermimpi dan bertemu dengan Allah dalam keadaan di selamatkan oleh-Nya, maka ia akan menjadi orang yang banyak dicintai dan disukai oleh manusia di dunia. Orang-orang akan menyukainya.
Jika seseorang bermimpi di mana dalam mimpinya seolah-olah Allah berbicara langsung dengannya maka berarti agama yang dianutnya benar dan ia akan diberikan amanah sebagai seorang pemimpin di dunia. Amanah itu perlu dijalankan dengan pertimbangan aturan Allah yang adil dan maslahat.
Jika seseorang bermimpi namun dalam mimpinya itu ia seolah-olah melihat Allah dengan menggunakan hatinya, maka ia akan dimuliakan oleh Allah, diampuni dosa-dosanya, dan kelak di hari kiamat akan mendapatkan semua itu.
Jika seseorang bermimpi bertemu dengan Allah dan Allah menjanjikan padanya ampunan maka janjinya itu benar. Ia akan menjadi hamba yang dosa-dosanya diampuni dan kelak akan di ganjar surga ketika di akhirat. [Ibnu Sirin dalam kitab Tafsir Al-Ahlam]
Syaikh Muhammad bin Sholih AI-’Utsaimin rahimahullah ditanya sebagai berikut : “Tentang melihat Allah ‘Azza wa Jalla, apakah benar perkataan bahwa mungkin (hal tersebut) terjadi pada mukmin mana saja dari kaum mukminin?”
Beliau menjawab: “Melihat Allah dalam mimpi di dunia tentunya, karena di akhirat tidak ada tidur. Telah datang dalam hadist tentang perdebatan Malaikat yang dikeluarkan oleh Ahlus Sunan sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya dalam tidur. Dan melihat Allah bagi selain Nabi, saya tidak mengetahui tsabitnya (tetapnya/ syahnya) dan saya tidak tahu apakah terjadi atau tidak. Akan tetapi telah disebutkan bahwa Imam Ahmad rahimahullah melihat Rabbnya dalam tidur dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa manusia kadang melihat Rabbnya dalam tidur dan hal tersebut karena Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat untuknya (orang yang mimpi) perumpamaan sesuai dengan komitmennya terhadap agamanya, yaitu ia melihat-Nya dalam mimpi yang baik sehingga hal tersebut menjadi pendukung baginya untuk komitmen terhadap agama. Wallahu A’lam“. [ Al-Liqo Al-Maftuh 30/17 pertanyaan no. 908 dengan perantara Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Fify.]
Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy rahimahullah tatkala ditanya dalam sejumlah pertanyaan dari Indonesia, diantaranya :
“Apakah seorang mukmin melihat Rabbnya dalam tidur, dengan dalil ? Dan apakah tsabit dari sebagian Salaf bahwa mereka melihat Rabbnya atau tidak ?”
Beliau menjawab: “Tidak ada yang melarang, dan telah datang dalam hadits Mu’adz, hadis ‘Abdurrahman bin ‘A’isy dan Ibnu ‘Abbas, dan sebagian (ulama) berkata bahwa ia (hadis-hadis ini) bisa naik ke derajat dapat dipakai berhujjah. Datang di dalamnya bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melihat Rabbnya. Dan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya ketika beliau menafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla : “Aku tiada mempunyai ilmu sedikitpun tentang Al-Mala’ul A’la (malaikat) itu ketika mereka berbantah-bantahan”. (QS. Shod : 69)
Karena beliau menyebutkan hadis di situ, beliau berkata : “Ini adalah mimpi dalam tidur”.
Dan saya tidak mengetahui ada dalil yang melarang hal ini yaitu bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melihat Rabbnya dalam tidur. Dan demikian dinukil dari Imam Ahmad dan dari selain beliau dari ulama Salaf bahwa mereka melihat Allah dalam mimpi. Tapi kalau seorang manusia melihat Rabbnya dan membawa sesuatu yang menyelisihi syariat Islam yang ada maka tidak diterima, karena orang yang melihat-Nya mungkin melihat-Nya secara hakiki dan (mungkin) adalah was-was diri sendiri sebagaimana telah datang (dalam hadis,-pent.) bahwa mimpi terbagi tiga ; mimpi dari Allah, mimpi dari setan dan bisikan diri. Ditambah lagi bahwa orang yang tidur tidak bisa berfikir sehingga diterima apa yang ia lihat dalam tidurnya”. [Tuhfatul Mujib pertanyaan no. 68.]
melihat Allah dalam mimpi adalah mungkin menurut kesepakatan ahli sunnah wal jama’ah (syarh Sunnah, 12/227/280).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : “Apabila demikian, maka seorang manusia kadang melihat Rabbnya dalam mimpi dan berbicara kepada-Nya. Ini (melihat Allah seperti ini.-pent.) adalah Haqq (benar) dalam mimpi tetapi tidak boleh ia berkeyakinan dalam dirinya bahwa Allah adalah seperti yang ia lihat dalam mimpi, karena sesungguhnya seluruh yang dilihatnya dalam mimpi tidak harus sama (dengan keadaan sebenarnya). Akan tetapi shurah (bentuk) yang ia lihat harus ada kesesuaian dan kemiripan dengan keyakinannya tentang Rabbnya. Kalau keimanan dan keyakinannya cocok, maka didatangkan kepadanya (di perlihatkan kepadanya) dari shurah itu dan ia (juga) mendengar dari kalam (firman-Nya) yang mencocoki (keyakinan-nya) tersebut. Kalau tidak, maka yang terjadi adalah kebalikannya.
Berkata sebagian Masya’ikh (syaikh-syaikh) : ‘Apabila seorang hamba melihat Rabbnya dalam suatu shurah maka shurah itu adalah tirai antara dia dan Allah’. Dan masih selalu ada dari kalangan orang-orang sholih dan selainnya yang melihat Rabb mereka dalam mimpi dan berbicara kepada-Nya. Dan saya tidak menyangka ada orang berakal yang mengingkari hal tersebut karena adanya hal ini merupakan perkara yang tidak mungkin ditolak sebab mimpi yang terjadi pada seorang bukanlah karena kehendak dan pilihannya. Dan ini adalah masalah yang sudah dipahami.
Telah disebutkan oleh para Ulama dari Ashhab (orang-orang hanbaliyah,-pent.) dan selainnya dalam Ushulud Diin (pokok-pokok agama). Mereka hikayatkan dari sekelompok kaum dari kalangan mu’tazilah dan selainnya tentang pengingkaran mereka terhadap melihat Allah, padahal penukilan tentang hal tersebut (melihat Allah dalam mimpi) adalah mutawatir (datang dari arah yang sangat banyak dan tidak bisa ditolak,-pent.) dari orang-orang yang melihat Rabbnya dalam tidur, kemudian barangkali mereka berkata : Tidak boleh dia meyakini bahwa ia melihat Rabbnya dalam tidur’. Maka mereka (kalangan mu’tazilah) telah menjadikan yang semisal ini termasuk mimpi-mimpi kosong dan berbuat ekstrim dalam meniadakan (menafikannya), yaitu menafikan melihat Allah dalam mimpi dari sebagian ru’yah (mimpi) yang benar sebagaimana segala yang dilihat dalam tidur. Ini termasuk pendapat Al-Mutajahmah (orang-orang Jahmiyah) yang batil (salah) yang menyelisihi kesepakatan para Salafus Ummah (orang-orang Salaf terdahulu dari umat) dan para imamnya. bahkan (menyelisihi) kesepakatan orang-orang yang berakal dari anak Adam. Bukanlah dengan melihat Allah dalam mimpi berarti terdapat suatu kekurangan atau aib yang berkaitan dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Hal tersebut hanyalah sesuai dengan keadaan orang yang melihat, yaitu kekuatan imannya, rusak dan istiqomah keadaannya serta penyimpangannya. Selesai ucapan beliau dari Bayan Talbis Al-Jahmiyah 1/73.
Beliau juga berkata: “Dan kadang seorang mukmin melihat Rabbnya dalam mimpi dalam shurah (bentuk) yang beraneka ragam sesuai dengan ukuran keimanan dan keyakinannya. Bilamana imannya benar maka dia tidak akan melihatnya selain dalam shurah (bentuk) yang baik, dan apabila pada imannya ada kekurangan maka ia akan melihat sesuai dengan keimanannya. Dan melihat dalam mimpi memiliki hukum lain yang berbeda dengan melihat secara hakiki (nyata) dalam keadaan terjaga. la (melihat dalam mimpi) mempunyai ta’bir dan takwil, karena yang terkandung di dalamnya berupa perumpamaan-perumpamaan yang dibuat untuk perkara-perkara yang hakiki (nyata)”. [ Majmu’ Al-Fatawa 3/ 390, Minhajus Sunnah 5/384 dan Dar’ut Ta’arudh 5/237 ]
Abdul Aziz Ar-Rajihy ditanya sebagai berikut;
“Apakah benar bahwa Imam Ahmad melihat Rabbnya Azza wa Jalla dalam tidur ?”
Beliau menjawab : “Saya tidak mengetahuinya. Adapun melihat Allah dalam tidur, berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa hal tersebut disepakati oleh seluruh millah (kelompok/aliran). Tidak seorangpun yang mengingkarinya kecuali Al-Jahmiyah, karena sengitnya pengingkaran mereka tentang melihat Allah (pada hari kiamat,-pent) sehingga mereka mengingkari melihat Allah dalam tidur.
Akan tetapi tidaklah hal tersebut (yaitu melihat Allah dalam mimpi,-pent.) mengharuskan adanya Tasybih (penyerupaan). Dan (para ulama) berkata bahwa manusia melihat Rabbnya sesuai dengan keyakinan-nya. Kalau keyakinannya pada Rabbnya benar dan perbuatannya (juga) benar maka iapun melihat Rabbnya dalam shurah (bentuk) yang baik. Dan kalau keyakinannya di bawah itu maka ia melihat Rabbnya dalam shurah yang mencocoki keadaan atau amalannya. Maka karena Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling benar keyakinannya beliau berkata: ‘Saya melihat Rabbku dalam sebaik-baik shurah‘. Dan tidak harus ada penyerupaan dari sini”. Selesai fatwa beliau dari pelajaran beliau menjelaskan kitab Syarhu As-Sunnah karya Al-Barbahary.
Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata : “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan yang lainnya menyebutkan bahwa sesungguhnya mungkin saja bagi seorang manusia melihat Rabbnya dalam tidur, akan tetapi apa yang dia lihat bukanlah yang hakiki (bukan yang sebenarnya), karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diserupai oleh sesuatu apapun. (Allah) Ta’ala berfirman:
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [QS. Asy-Syura : 11 ]
Maka tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya. Akan tetapi kadang ia melihat di dalam tidurnya bahwa Rabbnya berbicara kepadanya. Dan bagaimanapun shurah (bentuk) yang dia lihat, maka itu bukanlah Allah Jalla wa ‘Ala karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diserupai oleh sesuatu apapun, tidak ada penyerupaan bagi-Nya dan tidak ada tandingan bagi-Nya.
Dan Syaikh Taqiyuddin rahimahullah (Ibnu Taimiyah,-pent.) menyebutkan dalam hal ini bahwa keadaan-keadaan akan berbeda-beda sesuai dengan keadaan hamba yang melihat. Makin sholih dan makin dekat orang melihat (mimpi) kepada kebaikan, maka makin dekat pula mimpinya kepada kebenaran dan keabsahan, akan tetapi dengan selain kaifiyat atau sifat yang dia lihat, karena prinsip yang paling mendasar adalah bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diserupai oleh sesuatu apapun. Mungkin dia mendengar suara dan dikatakan kepadanya begini dan kerjakan begini, akan tetapi tidak ada di sana (dalam mimpi,-pent.) bentuk yang dia melihatnya menyerupai sesuatu dari makhluk, karena Dia Subhanahu tidak ada bagi-Nya penyerupaan dan tidak ada pula persamaan, Maha Suci dan Maha Tinggi (Allah).
Dan telah diriwayatkan dari, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melihat Rabbnya dalam tidur. Dari hadis Mu’adz radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melihat Rabbnya. Dan telah datang pada beberapa jalan bahwa beliau melihat Rabbnya dan Dia Subhanahu wa Ta’ala meletakkan tangan-Nya antara kedua bahu beliau, sehingga beliau mendapatkan (baca : merasakan) dinginnya di tengah dadanya.
Dan Al-Hafizh Ibnu Rajab telah mengarang tentang hal tersebut sebuah risalah yang beliau namakan Ikhtiyarul Aula fii Syarh Hadits Ikhtishom Al-Mala’il A’la. Ini menunjukkan bahwa para Nabi melihat Rabb mereka dalam tidur, adapun melihat Rabb di dunia dengan mata maka tidak. Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa tidak ada seorangpun yang melihat Rabbnya sampai ia mati. Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shohihnya.
Tatkala Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ditanya : ‘Apakah engkau melihat Rabbmu ?’ Beliau menjawab: ‘Saya melihat cahaya’. Dan dalam satu lafazh : ‘Cahaya, bagaimana saya bisa melihat-Nya ?!’. Keduanya diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang hal tersebut maka beliau mengabarkan bahwa tidak seorangpun yang melihat-Nya di dunia karena melihat Allah di Surga adalah puncak kenikmatan kaum mukminin. la tidak diperoleh kecuali oleh penduduk Sorga dan orang yang beriman di negeri Akhirat, dan demikian pula kaum mukminin di mauqif (padang Mahsyar) pada Hari Kiamat. Adapun dunia adalah negeri (tempat) ujian dan cobaan dan negeri (tempat) orang-orang jelek dan orang-orang baik, tinggal bersama, bukan tempat untuk melihat (Allah), karena melihat (Allah) adalah nikmat yang paling besar bagi orang yang melihat, Allah peruntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman di negeri kemuliaan dan di Hari Kiamat.
Sedang melihat (Allah) dalam mimpi yang banyak dari manusia mengaku (mengalaminya), maka itu berbeda-beda sesuai dengan keadaan orang yang melihat -sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam rahimahullah sesuai dengan kesholihan dan ketaqwaannya. Dan kadang-kadang dikhayalkan pada sebagian manusia bahwa dia melihat Rabbnya padahal tidak demikian. Karena setan kadang menghayal-kan dan menyamar-nyamarkan pada mereka bahwa ia adalah Rabbnya. Sebagaimana diriwayatkan bahwa (setan) menghayalkan kepada ‘Abdul Qodir Al-Jailany di atas sebuah arsy (singgasana) di atas air dan ia berkata : ‘Saya adalah Rabbmu, dan saya telah meletakkan beban-beban (syari’at) darimu’. Maka Syaikh ‘Abdul Qodir berkata: ‘Pergilah, wahai musuh Allah, engkau bukanlah Rabbku. Karena perintah Rabbku tidaklah digugurkan dari para mukallaf (orang yang mampu), atau seperti yang beliau katakan rahimahullah. Yang dimaksud (di sini) bahwa melihat Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan terjaga tidak akan diperoleh oleh seorangpun dari manusia walaupun oleh para Nabi ‘alaihimush sholatu was salam, sebagaimana yang telah terdahulu dari hadis Abu Dzar dan sebagaimana hal tersebut (juga) ditunjukkan oleh firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Musa ‘alaihis sholatu was salam tatkala ia meminta kepada Rabbnya untuk melihat-Nya, maka Allah berfirman kepadanya :
‘Engkau tidak akan melihatku…’. (QS. Al-A’raaf:143)
Akan tetapi melihat (Allah) dalam mimpi kadang diperoleh oleh para Nabi dan sebagian orang Sholih dengan bentuk yang tidak menyerupakan (Allah) Subhanahu dengan makhluk sebagaimana yang telah terdahulu dalam hadis Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Dan apabila ia memerintahnya dengan sesuatu yang menyelisihi syari’at maka ini adalah tanda bahwa dia tidak melihat Rabbnya dan dia hanyalah melihat setan. Andaikata dia melihatnya dan berkata kepadanya : ‘Janganlah kamu sholat, sudah digugurkan darimu taklif (beban-beban syari’at)’, atau ia berkata : Tidak ada kewajiban zakat atasmu’ atau ‘Tidak ada kewajiban puasa Ramadhon untukmu’ atau ‘Tidak ada atasmu kewajiban berbakti pada kedua orang tuamu’ atau ‘tidak apa-apa (tidak berdosa) engkau makan riba’, maka ini semua dan yang semisal dengannya adalah tanda-tanda bahwa dia melihat setan dan bukan Rabbnya. [Majmu’ Fatawa Ibnu Baz jilid 6 hal. 367-369.]
Allahu Alam Bersatulah, Semuanya akan terjadi sesuai mimpi-mimpi Muhammad Qasim Bin Abdul Karim.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memanggilku dan beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) bersabda; “Anakku Qasim, sebelum hari kiamat empat tanda besar akan muncul,” dan beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) bersabda kepadaku bahwa; “Tanda besar kiamat yang pertama adalah kemunculanmu, anakku Qasim.” Aku terkejut karena berita ini dan aku melihat diriku berkonsultasi dengan ulama untuk mengkonfirmasikan tentang tanda pertama kiamat. Ulama tersebut bertanya; “Apakah kamu berhubungan dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?” Aku berkata kepadanya bahwa; “Dia ayahku dan orangorang selalu memanggilnya dengan nama Abu Al Qasim.” Kemudian dia (ulama tadi) berbicara dengan orang-orang mengenai masalahku. Dia kembali kepadaku dan berkata bahwa; “Qasim, tanda pertama sudah diperlihatkan oleh Allah dan yang lainnya akan datang (dengan cepat).”
Setelah tiga atau empat minggu, aku bermimpi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahwa; “Tanda besar yang kedua akan diperlihatkan di tahun yang akan datang yaitu kemunculan dajjal.” Beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) juga menegaskan bahwa dua tanda besar terakhir termasuk turunnya Nabi ‘Isa ‘Alaihis Salam dan kehancuan yang dilakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj.
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku
Bandung, 11 Januari 2022
Pada suatu mimpi di bulan Maret 2015, aku (Qasim) berada di rumah tua dan semuanya (isi dan bagian-bagian rumah tersebut) rusak dan tidak ada penerangan. Aku berkata (bahwa) mungkin ini tertulis dalam takdirku untuk hidup dalam kegelapan ini selamanya. Tapi kemudian Allah datang di atas arsy-Nya (dengan tabir cahaya-Nya) dan berfirman “Qasim, untuk beberapa lama kamu akan terus hidup dalam kegelapan ini? Keluarlah dari rumahmu dan carilah tempat yang Aku rahmati dan berkahi. (Suatu) tempat (dimana) tanpa ada kegelapan dan kesedihan.”
Aku segera meninggalkan rumahku dengan kebahagiaan, memikirkan betapa baiknya Allah yang Dia datang untuk membawaku keluar dari kegelapan ini. Aku menempuh jarak yang agak jauh sampai aku melihat 8 hingga 10 ekor singa berukuran besar lapar menderu. Aku berlari kembali ke dalam rumah, aku ketakutan dan membanting pintu di belakangku.
Aku mengeluh kepada Allah, dan Dia berfirman “Percayalah kepadaKu, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuhmu.” Aku melihat ke luar jendela mencari singa, (kemudian aku melihat) 3 ekor anjing yang mengerikan tampak berlari ke arah jendela sambil menggonggong dengan ganas. Aku terjatuh ke belakang saat anjing-anjing tersebut mendekat. Anjing-anjing itu menubruk teralis jendela dan terjatuh pingsan.
Aku duduk di sudut tembok sambil mengeluh kepada Allah dengan meragukan pernyataan sebelum-Nya. Allah menjadi marah dan memukul anjing-anjing itu dengan kilat dan mereka mati disana. Allah berfirman “Qasim, apakah kamu mematuhi perintahKu atau hidup dalam kegelapan ini selamanya? Dan percayalah kepadaKu, Aku akan melindungimu dan membuatmu mencapai takdirmu. Dan Qasim, Aku sangat berkuasa atas apa yang Aku lakukan.” Allah pergi dan aku terus berbaring disana memikirkan apa yang harus aku lakukan. Lalu aku pikir, tidak peduli apa yang harus aku lakukan, kematian tetap akan sampai kepadaku. Lebih baik aku mati di luar daripada mati dalam kegelapan ini. Dan Allah menjanjikan perlindungan dan kesuksesan. Jadi aku harus menaruh kepercayaanku kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala.
Aku menyebut nama Allah dan meninggalkan rumah itu dalam ketakutan dan teror. Aku bahkan membiarkan pintu terbuka sehingga aku dapat dengan mudah berlari kembali. Aku perlahanlahan keluar dengan sangat hati-hati pada awalnya. Aku tidak melihat singa. Lalu aku melihat lengan singa yang terlepas. Kupikir siapa yang bisa membunuh singa-singa yang menyeramkan itu? Lebih jauh ke bawah, aku melihat kepala singa dan beberapa potongan tubuh singa. Aku merasa lega menyadari bahwa Allah telah membuat jalan untukku. Lalu aku mulai mencari-cari apa yang harus dilakukan selanjutnya. Aku melihat bangunan besar dan aku memanjat atapnya untuk mencari Allah. Aku melihat cahaya Allah pergi ke suatu tempat dan aku mengejarnya.
Saat aku sampai di cahaya tersebut, cahaya itu lenyap. Cahaya Allah sangat menawan sehingga aku menyadari bahwa aku berada di tanah. Aku menjadi terkejut, (aku) berpikir kenapa aku tidak jatuh? Aku menyadari, bahwa Allah menolongku setiap waktu. Aku merasa sangat gembira dan aku berseru kepada Allah, (aku) berkata “Dimanakah Engkau?” Kemudian Allah memberi petunjuk nama tempat tujuanku dan berfirman “Qasim, Aku disini, cepat datanglah.”
Dengan (sekuat) energi, aku melihat tempat itu (dan) berpikir (bahwa) aku harus menghampirinya. Lalu aku melihat sebuah sepeda motor mewah berwarna hitam. Aku mengendarainya, tapi jalan dipenuhi lumpur yang memperlambatku. Aku berharap jalan itu bagus sehingga aku bisa mengendarai dengan cepat. Ketika aku mengatakan ini, sebuah jalan karpet berwarna hitam keluar dari bumi dan menyebar keluar. Aku menjadi bahagia dan mengendarai motorku dengan kecepatan penuh mencapai tujuanku.
(Tempat) itu adalah bangunan mewah yang indah. Aku berlari masuk dengan kegembiraan. Lingkungannya tenang dan menenangkan serta sangat damai. Warna dan bentuknya agak pudar membuat tampilan yang sangat menarik. Hampir seolah-olah seseorang baru saja melukis bangunan itu. Dan rasanya seperti Allah akan membangun kembali bangunan itu dan membuatnya menjadi baru. Aku pergi dari satu ruangan, ke kamar lain dan kemudian sampai di sebuah aula besar. Dan di Aula itu adalah cahaya Allah.
Allah berfirman, “Qasim apakah Aku tidak mengatakan bahwa Aku akan membawamu ke sini dengan selamat?” Aku berkata kepada Allah bahwa “Engkau membuat firmanMu menjadi kenyataan dan Engkau menunjukkan jalan kepadaku. Engkau membawaku keluar dari kegelapan dan Engkau membawaku ke Cahaya. Memang, Engkau adalah pelindung terbaik, sekarang aku akan menyelesaikan sisa pekerjaanku besok pagi. Kalau begitu aku akan memberitahuMu tentang penyelesaian.” Allah menjawab dengan nada serius dan berfirman “Qasim, jika kamu menyelesaikan semua pekerjaan besok, maka Aku akan menetapkan kiamat (hari penghakiman) di malam hari.”
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku
12 Juli 2018
بسم اللہ الرحمٰن الرحیم
السلام علیکم ورحمتہ اللہ وبرکاتہ
Aku menemukan diriku di dalam sebuah rumah besar. Di sana aku menemukan orang-orang terlibat dalam berbagai jenis kejahatan dan rumah besar itu penuh dengan kegelapan. Debu dan kotoran memperburuk kondisi rumah. Aku mencari air agar dapat mengalirkannya ke dalam pipa dan mulai mencuci rumah itu. Ada jaring laba-laba, kotoran, dan serangga di setiap sudut rumah. Rumah ini sangat besar dan banyak ruangan di dalamnya. Setelah selesai bersih-bersih rumah, kemudian aku merasa lapar. Pada akhirnya aku menemukan diriku bersama orang-orang yang kukenal dan juga ada beberapa orang yang tidak kukenal. Mimpi berakhir