ALLAH ﷻ DAN MUHAMMAD ﷺ DI DALAM MIMPI MUHAMMAD QASIM BIN ABDUL KARIM,
Bandung, 6 Juni 2022/1443 H
BismillahirRahmanirRahim. Assalamualaikum wbt.
Di dalam mimpi ini, aku melihat diriku di sebuah gurun yang luas. Kemudian aku melihat Arsy Allah muncul dan Allah memanggilku kepadaNya.
Lalu aku menjawab, “Wahai Allah, sudah lama Engkau tidak datang. Mengapa Engkau tidak datang akhir-akhir ini, wahai Tuhanku?”
Kemudian Allah ﷻ berfirman, “ Qasim, waktu-Ku telah tiba untuk memanggilmu, dan Aku tidak akan melakukan sesuatu yang belum waktunya.
Aku seharusnya memanggil kamu semasa kamu berusia 40 tahun. Sekarang engkau sudah berusia 40 tahun dan telah tiba waktunya Aku memanggil kamu.”
Dalam fikiranku, aku berfikir bahawa, “Aku sekarang sudah berusia lebih 40 tahun, tetapi Allah ﷻ berfirman bahawa aku berusia 40 (tahun)”.
Selepas itu aku pergi menuju Allah ﷻ dan ketika aku di pertengahan atau lebih, Allah ﷻ berfirman dengan suara lembut dan menenangkan hati, “Jadi katakan kepada-Ku Qasim, apa khabar kalian?”
ALLAH ﷻ DAN MUHAMMAD ﷺ DI DALAM MIMPI MUHAMMAD QASIM BIN ABDUL KARIM
Bandung, 6 Juni 2022/1443 H
Dalam sebuah mimpi 10 Desember 2017. Aku (Qasim) melihat bahwa aku sedang duduk di dalam rumahku. Itu adalah rumah sewaan yang sudah tua. Aku sedang bersama beberapa orang di dalam ruangan. Kemudian Allah Subhanallahu wa Ta’ala mengirimiku sebuah mesin terbang dan berpesan kepadaku bahwa ada sebuah tempat di angkasa, dan Allah Subhanallahu wa Ta’ala memanggilku untuk datang kesana. Aku menjadi sangat senang (karena) Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberiku tugas untuk dikerjakan, dan Jibril ‘Alaihis Salam juga datang kesini.
Aku telah bersiap di dalam mesin terbang itu, lalu aku memandang kearah Jibril ‘Alaihis Salam namun dia pergi ke dalam ruangan dimana orang-orang sedang berkumpul, maka aku pun terbang menuju tempat yang diperintahkan. Aku terbang dengan kecepatan penuh, dan aku terbang jauh ke luar area bumi. Aku melewati sebuah tempat yang dipenuhi kegelapan, tapi aku tidak berhenti dan terus bergerak kedepan. Tiba-tiba, beberapa kekuatan jahat datang dan berkata, “Hentikan dia, jika dia mencapai tempat itu maka kita akan hancur!” dan mereka pun menyerang mesin terbangku.
Mesin terbangku pun hancur namun aku selamat karena pertolongan Allah, dan tidak ada hal buruk yang terjadi padaku kecuali sekarang aku sendirian melayang-layang di angkasa. Aku terus terbang melayang menjauhi dampak dari kerusakan dan aku mengendalikan tubuhku dan mencari jalan untuk kembali. Tapi aku tidak mengerti dari mana aku datang, kemudian aku mengira-ngira arahnya dan beranjak ke arah tersebut menggunakan tanganku dan mengeluarkan banyak tenaga.
Dalam waktu cepat aku mendapatkan kecepatan tinggi, aku berkata, “Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah menyelamatkanku di angkasa luar dan telah menjadikanku dapat terbang tanpa mesin, maka Dia pasti akan menunjukkan kepadaku jalan yang benar, sehingga aku akan dapat kembali ke bumi, kemudian pulang ke rumahku.” Aku terus terbang dengan perasaan takut jika aku tersesat maka kemungkinan aku tidak akan pernah bisa pulang. Tiba-tiba aku melihat bumi dan menjadi sangat senang, dan kemudian Allah Subhanallahu wa Ta’ala membawaku tiba di rumahku.
Saat aku sampai di rumah, aku melihat Jibril ‘Alaihis Salam masih duduk bersama orangorang itu. Aku merasa sepertinya dia berbicara dengan orang-orang itu dan menceritakan kepada mereka tentang aku. Setelah aku datang dia pun memandangiku. Aku bertanya-tanya, “Kenapa Jibril ‘Alaihis Salam memandangiku dan kenapa dia masih disini? Aku baru datang dari tempat yang sangat jauh tapi dia masih disini, dan apa yang dia lakukan duduk bersama orang-orang ini?” Kemudian, setelah beberapa saat Jibril ‘Alaihis Salam pergi dari sini dan orang-orang itu pun pergi juga.
Sejak tiba kembali ke bumi aku tidak bertemu dengan siapa pun dan juga tidak berbicara kepada siapa pun. Aku pun duduk di ruangan lainnya dan mulai berpikir. Aku berkata, “Kenapa Allah Subhanallahu wa Ta’ala tidak memperingatkanku bahwa akan ada bahaya di dalam perjalanan tadi, jika Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberitahuku tentunya aku tidak akan pergi ke arah itu.” Aku menjadi sangat sedih. Aku berkata, “Aku telah mengambil banyak sekali resiko dan telah pergi sangat jauh. Aku telah menggunakan seluruh tenagaku dan hasilnya tetap nihil. Seandainya aku tahu, maka aku tidak akan menempuh perjalanan ini.” Kemudian aku menjadi mulai lemah.
Lantas aku pergi ke sebuah tempat dan aku bertemu dengan seorang laki-laki di antara mereka yang ada di dalam ruangan tadi, dan dia bertanya kepadaku, “Apa yang terjadi denganmu? Mengapa engkau terlihat sangat sedih?” Aku berkata, “Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberikanku sebuah tugas untuk diselesaikan namun aku tidak mampu melakukannya, aku menjadi semakin lemah karena tugas ini jauh melampaui kemampuanku.” Dia berkata, “Jangan berputus asa seperti ini, masa-masa sulit ini suatu saat akan berakhir. Kau sebaiknya pergi memeriksakan dirimu ke dokter.”
Maka aku pun pergi ke seorang dokter dan dia memberikan resep obat. Dokter tersebut berkata berkata, “Minum obat ini dan kau akan baik kembali,” Aku pun kembali dan berpikir dimana aku bisa mendapatkan obat-obat ini? Aku menunjukkan resep obat itu ke laki-laki yang kutemui tadi, dia berkata, “Aku tahu dimana mendapatkan obat ini, aku akan mencarikannya untukmu.”
Kemudian aku datang ke sebuah tempat yang mana sedang ada seorang laki-laki membangun rumah. Dia membangun rumah itu dengan sangat baik. Setelah melihat ini aku berkata, “Aku berharap dapat mempunyai rumah seperti ini juga.” Lalu aku bertemu dengan orang yang kedua, yang mana dia juga termasuk dalam orang-orang yang tadi ada di dalam ruangan di rumahku. Orang itu berkata, “Qasim, kami sedang membangun rumah untukmu.” Dia membawaku ke sebuah tempat, dan semua orang-orang yang tadi ada di dalam ruangan rumahku ada di tempat itu juga. Aku berkata, “Ini adalah orang-orang yang sama dengan yang ada di dalam rumahku, dan sebelum aku melakukan perjalanan ke luar angkasa, aku sedang duduk bersama mereka. Kenapa orangorang ini mau melakukan semua ini untukku? Dan bagaimana mereka tahu bahwa aku menginginkan sebuah rumah?” Orang-orang itu bekerja dengan penuh dedikasi dan kejujuran. Aku berpikir apa jangan-jangan mereka menerima pesan dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala untuk melakukan ini semua? Kemudian orang yang tadi membelikanku obat telah tiba. Setelah melihat obat itu aku berkata, “Ini adalah multi vitamin yang biasa ayahku minum,” lalu aku minum obat itu dan mulai melihat-lihat rumah itu.
Rumah itu agak kecil, setelah melihatnya aku berkata, “Ini adalah rumah kecil, sulit bagi kita semua untuk bisa masuk kedalamnya bersama-sama, dan rumah ini juga tidak memiliki area yang luas untuk berjalan. Aku harus membangun rumah yang besar,” dan muncul dalam bayanganku sebuah rumah besar yang seringkali datang ke dalam mimpi-mimpiku. Kemudian aku berkata, “Rumah kecil ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Untuk saat ini kita bisa menggunakan rumah ini, dan jika Allah Subhanallahu wa Ta’ala berkehendak maka kita juga akan mendapatkan rumah yang besar itu juga.”
Orang-orang ini telah bekerja sangat keras untuk membangun rumah kecil ini. Aku masih berdiri dan memikirkan ini semua, ketika seseorang mendekatiku dan berkata bahwa sebuah pertempuran telah terjadi di suatu tempat. Tempat itu sangat terkenal. Aku berkata, “Bagaimana ini bisa terjadi?” Dia berkata, “Ini semua terjadi secara tiba-tiba, kau bisa melihatnya sendiri.” Ketika aku menonton televisi ternyata benar sebuah pertempuran terjadi di situ. Pertempuran itu terus menyebar kemana-mana, dan itu menjadi penyebab dari tragedi yang sangat besar. Aku berkata, “Pertempuran ini masih terus menyebar.” Orang-orang yang bekerja bersamaku mulai bekerja semakin giat, dan mereka menyampaikan ke orang-orang bahwa ini semua akan terjadi sebagaimana yang Qasim lihat di dalam mimpi-mimpinya. Aku menjadi terkejut melihat ini semua, aku berkata, “Orang-orang ini adalah orang-orang yang sangat jujur dalam menyebarkan berita ini, mereka menyampaikan pesan-pesan kepada semua orang untuk bersatu. Karena jika tidak, maka negaranegara muslim akan hancur disebabkan peperangan ini.”
Banyak orang yang duduk di sekeliling mereka dan memperhatikan peringatan ini dan banyak diantara orang-orang itu yang mempercayai mereka. Aku berkata, “Aku harus pergi ke sana dan melihat sendiri apa yang sedang terjadi.” Saat aku sampai disana, sedang terjadi peperangan sengit antara muslim dengan non muslim. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan. Muslim menderita kerugian yang sangat besar. Aku mengumpulkan keberanian dan maju ke depan. Ada sebuah jalur yang menuju ke sebuah tempat, aku pergi ke arahnya dan tiba di sebuah tempat terbuka. Aku sangat terkejut terhadap apa yang kulihat, yaitu angkatan bersenjata non muslim telah bersiap siaga disana. Setelah melihat ini, aku berkata, “Ini adalah angkatan bersenjata yang sama seperti yang kulihat dalam mimpi-mimpiku, yaitu saat mereka menghancurkan Turki dan Saudi Arabia dan bergerak menuju Pakistan.” Ada banyak pesawat helikopter dan angkatan darat disana. Aku merasa bahwa tentara ini adalah angkatan perang dajjal.
Setelah melihat ini semua, aku berkata, “Kita muslim belum cukup kuat untuk memerangi tentara-tentara ini.” Aku pun kembali dan menyampaikan ke orang-orang tadi dan menceritakan semuanya kepada mereka, bahwa angkatan bersenjata kufar telah siap sedia dan ini adalah saatnya kufar menghancurkan negara-negara muslim. Mereka berkata, “Artinya kita sudah tidak memiliki banyak waktu!” Orang-orang itu terus berusaha untuk meraih semakin banyak orang dengan pesan seruan ini, dan menyampaikan bahwa (kaum) kufar sedang berencana untuk menyerang dengan serangan yang sangat besar kepada kita, dan jika kita tidak menggunakan pemikiran kita dan bersatu, bencana besar akan jatuh kepada kita.
Pakistan akan memainkan peran yang sangat besar dalam peperangan ini. Waktu untuk Ghazwatul Hindi telah sangat dekat, dan saat ini aku melihat beberapa orang terkenal berdatangan dan duduk di sekeliling mereka dan menyimak dengan sebaik-baiknya. Dan mimpinya berakhir disini.
Pada 07 Februari 2017, aku (Muhammad Qasim) melihat mimpi bagaimana Israel sedang membangun sebuah gedung besar berwarna coklat di dalam area Palestina, dikarenakan hal tersebut umat muslim di Palestina menjadi sangat marah dan kemudian seluruh negara Arab juga menjadi marah, mereka berpikir bahwa “Kenapa Israel membangun gedung disana? Ini adalah tanah umat muslim!” kemudian umat muslim di seluruh dunia juga menyuarakan keberatan terhadap hal ini. Mereka mulai melakukan protes (demontrasi) menentang Israel. Tapi Israel tidak juga berhenti dan umat muslim juga tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya menyuarakan protes saja. Saat aku melihat ini, aku (bergumam bahwa) “Jenis bangunan apa ini, yang telah membuat banyak muslim melakukan protes?”
(Kemudian) aku pergi ke sebuah kendaraan jenis pesawat terbang untuk melihat bangunan tersebut. Saat aku bergerak mendekati, aku melihat banyak sekali muslim sedang melakukan protes dan Israel hampir menyelesaikan gedung tersebut. Kemudian ketika lampu-lampu dinyalakan dari dalam gedung, maka umat muslim menjadi semakin gencar melakukan protes. Namun tiba-tiba muncul sebuah ledakan sangat besar dari dalam pondasi gedung yang memberikan dampak amat sangat besar, hingga seluruh gedung berubah hanya dalam waktu semalam. Dan disebabkan ledakan tersebut, muncullah badai asap yang sangat mengerikan yang menyebar ke seluruh penjuru. Umat muslim dan keluarganya terkena efek dari badai asap tersebut, aku melihat laki-laki muslim, perempuan, dan anak-anak meninggal seketika dalam jumlah ribuan.
Badai asap itu sangat amat besar dan pekatnya sampai-sampai cahaya matahari tak mampu menembus ke bumi, terasa seperti sebuah malam yang gelap gulita, dan dikarenakan badai gelap tersebut maka tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan diri atau mencari pertolongan. Aku tidak bisa bertahan untuk menyaksikan ini, jadi aku putuskan untuk mundur. Namun badai asap tersebut terus-menerus menyebar. Dan juga menyebar ke banyak negara, seperti Suriah, Mesir, Libya, Sudan dan masih banyak lagi. (Peristiwa) itu menyebarkan kerusakan yang amat sangat besar sampai aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Jutaan orang meninggal seketika, itu sangat mengerikan. Aku tidak bisa percaya akan terjadi seperti ini. Aku berkata ke diriku “Apa yang sebenarnya yang Israel Lakukan dan menyebabkan badai yang besar. Apa yang ada di dalam gedung itu yang membuat seluruh negara-negara Arab marah karenanya? Dan kapan badai yang mengerikan ini berakhir?”
Aku telah melihat sebuah mimpi dan aku telah menyaksikan bahawa orang-orang dari Bangladesh, Indonesia, Malaysia dan bahkan dari India akan memainkan peranan besar di dalam menyebarkan mimpi-mimpi tersebut ke segala penjuru dunia dan (sehingga) orang-orang dari seluruh dunia memberikan perhatian.
ALLAH ﷻ DAN MUHAMMAD ﷺ DI DALAM MIMPI MUHAMMAD QASIM BIN ABDUL KARIM
PERJALANAN DEMI PERJALANAN (07 APRIL 2021) ———————————
BismillahirRahmanirRahim. Assalamualaikum wbt.
Di dalam mimpi ini aku melihat diriku berada di satu kawasan yang sangat gersang, seperti gurun, di mana jarang adanya apa-apa tumbuh-tumbuhan.
Tempat tersebut nampaknya bukan seperti tempat di Pakistan, tetapi lebih kelihatan seperti di Timur Tengah.
Aku mengingatnya kerana telah melihat keadaan yang serupa pada mimpi yang lain di mana aku telah bertemu Khatamun Nabiyyin Nabi Muhammad ﷺ.
Melalui mimpi ini, aku melihat taman-taman kecil di suatu tanah yang kering di mana di dalamnya ada pepohonan yang tinggi seperti pohon-pohon kurma.
Taman-taman kecil ini dipisahkan oleh dataran. Aku berada di salah satu taman dari taman-taman tersebut bersama dengan para pembantuku.
Kami sedang menuju ke satu tempat, tapi tidak ada seorang pun di antara kami yang yakin ke manakah arah tuju kami, atau seberapa jauhkah kami perlu berjalan, atau seberapa lama perjalanan ini akan memakan masa.
Aku mendapat satu perasaan bahawa kami harus melakukan tugas ini dan kami melakukannya demi Allah ﷻ dan Nabi Muhammad ﷺ.
Lantas kami segera tiba di hujung taman tersebut, di mana kami berjalan di dalamnya. Aku melihat bahawa di sana ada taman lain di hadapan, selepas dipisahkan oleh sebahagian kecil tanah kering.
Ketika kami mendekati pinggiran taman pertama, aku melihat Nabi Muhammad ﷺ datang menuju kami dari taman yang lain.
Setelah aku melihat Nabi Muhammad ﷺ, aku terkejut dan berkata kepada diriku sendiri bahawa aku berfikir kami masih mempunyai banyak masa, dan masih jauh perjalanan yang harus ditempuh, tetapi nampaknya kami semakin dekat!
Aku juga menyedari bahawa Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya sedang menunggu kami di hujung taman berikutnya.
Aku melihat Nabi Muhammad ﷺ begitu khuatir terhadap kami dan berjalan ke arahku dengan cemas. Nabi Muhammad ﷺ bertanya kepadaku bahawa, “Qasim! Aku tidak sabar menanti kehadiranmu. Bilakah kau akan sampai kepada kami?”
Aku berkata kepada baginda ﷺ bahawa “Tugasan seterusnya yang kami lakukan, kami akan sampai selepas tugasan ini selesai. Jika tidak, selepas tugasan berikutnya ini, maka pasti selepas tugasan kedua yang kami lakukan (setelah tugasan berikutnya ini) kami akan sampai kepada kamu.”
Nabi Muhammad ﷺ berkata kepadaku bahawa, “Selepas kamu bertemu dengan kami (di taman berikutnya), hanya engkau seorang sahaja yang dapat melepasi titik itu dengan rahmat Allah ﷻ.”
Kemudian aku menyaksikan sebuah gambaran dari pergunungan selepas taman berikutnya, di mana orang-orang kafir telah mengerahkan bala tentera mereka.
Aku merasa bahawa kami harus meninggalkan kawasan itu, dan kami mesti mencari jalan keluar. Tetapi orang-orang kafir itu memantau kawasan itu untuk memastikan tidak ada sesiapa yang melepasinya. Nabi Muhammad ﷺ berkata kepadaku bahawa, “Kamu mesti maju ke depan dan dengan rahmat dan pertolongan Allah ﷻ, kamu akan bertemu jalannya.”
Kemudian aku melihat adegan-adegan dimana diriku berjalan menuju pegunungan, dan dengan rahmat Allah ﷻ, sebuah jalan seperti sebuah terowong terbuka melalui pergunungan.
Aku merasa jalan ini diciptakan oleh Allah ﷻ, ianya seperti satu mukjizat.
Selepas melihat semua ini, aku menyebutkan lagi kepada Nabi Muhammad ﷺ, bahawa, “Tugasan seterusnya yang kami lakukan, atau tugasan kedua selepas itu, engkau ﷺ akan dapat melihat kami mendatangimu.”
Kemudian aku melihat wajah Nabi Muhammad ﷺ menjadi cerah kerana bahagia dan baginda ﷺ menjadi sangat gembira mengetahui perkara ini.
Kemudian Nabi Muhammad ﷺ menjawabku dengan bersabda: “In Sya Allah! Allah akan membantumu! (Qasim & para pendukungnya).”
Dalam mimpi ini aku melihat bahwa pemerintahan Imran Khan telah gagal, sudah berakhir dan mereka pergi meninggalkan kantor-kantor pemerintah. Aku berdiri dari kejauhan dan melihat semua ini. Aku mengatakan bahwa semua yang terjadi pada Imran Khan sama seperti yang telah aku lihat di dalam mimpiku. Aku merasa sangat senang melihat semua ini karena mimpiku telah menjadi kenyataan. Aku berkata bahwa Allahﷻ telah menunjukkan kebenaran kepadaku.
Kemudian, aku pulang menuju rumahku. Saat aku berjalan pulang, aku melihat sekelompok besar Ulama berjalan ke arahku dari ujung jalan. Sepertinya Kelompok Ulama ini berasal dari seluruh dunia, tetapi diantara mereka, jumlah Ulama dari Indonesia jauh lebih banyak. Ketika aku semakin dekat dan akhirnya melewati mereka, beberapa dari mereka (kebanyakan orang Indonesia) berhenti dan bertanya, ini adalah Qasim laki-laki si pemimpi. Kemudian mereka datang mengucapkan salam dan berjabat tangan denganku. Ulama lain yang tidak mengenalku juga berhenti melihat ini.
Kemudian aku berkata bahwa mimpi tentang Imran Khan telah menjadi kenyataan atas rahmat Allahﷻ. Jika mimpiku tentang Imran Khan menjadi kenyataan maka mimpiku tentang Kebangkitan Islam dan Pakistan juga akan menjadi kenyataan. Dalam hati aku berpikir bahwa Jika para Ulama ini benar-benar mencintai Allahﷻ dan Nabi Muhammadﷺ maka setelah kebenaran dan bukti tentang mimpiku ini terungkap, mereka seharusnya dalam setiap keadaan menyebarkan mimpi-mimpi ini dan bukti-buktinya kepada orang lain. Jika mereka menyebarkan mimpi ini dengan cara seperti itu, maka akan berdampak lebih besar pada Pakistan dan seluruh dunia. Aku terus memikirkan hal ini sambil berjalan dan aku melihat para ulama itu juga mengikutiku sampai ke rumahku. Ketika aku sampai di rumah, ada pertemuan banyak orang dan Ulama disana, seperti ada peristiwa penting yang terjadi di depan rumahku.
Dari ‘Ali [radhiyallahu’ anhu] bahawa dia berkata: “Nabi ﷺ bersabda: يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ وَرَاءِ النَّهْرِ يُقَالُ لَهُ الْحَارِثُ بْنُ حَرَّاثٍ ‘‘Seorang lelaki akan keluar dari Ma Wara ‘an-Nahr [dari seberang sungai oxus] yang disebut al-Harith ibn Harrath (Pemuda Singa Anak Kepada Singa Yang Gagah) عَلَى مُقَدِّمَتِهِ maka ke atas barisan hadapan (iaitu Pakistan) dikawal oleh kepala tentara رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مَنْصُورٌ (iaitu) seorang lelaki yang disebut al-Mansur (yang mendapat pertolongan Allah) يُوَطِّئُ أَوْ يُمَكِّنُ لآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا مَكَّنَتْ قُرَيْشٌ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَجَبَ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ نَصْرُهُ ” . أَوْ قَالَ ” إِجَابَتُهُ ” dialah yang akan memudahkan urusan atau membela keluarga Nabi ﷺ seperti pihak Quraisy yang membela Rasulullah ﷺ. Wajib setiap mukmin menolongnya atau baginda bersabda, “Wajib setiap orang mukmin menerimanya.” [Sunan Abi Dawud 4290, Hadis ini Sahih Dgn Syarat Ibn Hibban melalui Perawi yang dikenal]
Tatabahasa: • Ma Wara ‘an-Nahr = Dari Seberang Sungai Oxus [Utara Afghanistan yang berbangsa Farsi] • A’laa muqaddimatihi = maka ke atas barisan hadapan dikawal oleh kepala tentara * A’laa = Ke Atas * muqaddimatihi = barisan hadapan dikawal kepala tentara
Fakta Sejarah dan Dalilnya: • Penduduk Ma Wara ‘an-Nahr adalah rujukan bahasa arab bagi keturunan farsi yang telah melarikan diri setelah ditakluki islam kemudian diIslamkan keseluruhan Transoxiana oleh oghuz khan yang berdarah turkic dan farsi. • Daripada Abu Hurairah RA berkata, bahawa Nabi SAW bersabda: لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا، لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلَاءِ Maksudnya: “Sekiranya iman itu berada di bintang al-Thurayya, maka akan dicapai oleh manusia daripada golongan mereka (orang Parsi).” [Riwayat Muslim (2546)] • Bangsa Farsi yang masih unggul dan majoriti mereka mengikuti ahlul sunnah wal jamaah adalah mereka yang sekarang ini dikenali dengan bangsa tajik yang berbahasa farsi.
Kesimpulan: • Al-Mansur adalah Ketua Tentera Yang Mengawal bagian atas hadapan sungai oxus iaitu Ketua Tentera Pakistan. • “Wajib setiap orang mukmin menerimanya.” karna beliau adalah seorang ulil amri di negara Islam yang telah membenarkan al-Mahdi.
Pendapat: Ketua Tentera Pakistan mempunyai peran yang besar didalam membenarkan mimpi Muhammad Qasim sesuai menurut mimpi beliau. Ada pun gelar al-Mansur akan terjadi setelah ketua tentera pakistan membenarkan mimpi Muhammad Qasim dan lalu dia mendapatkan pertolongan Allah.
Hadits di atas menunjukkan bahwa Al Mansur adalah seseorang yang mempermudah dan memperkuat Al Mahdi SEBAGAIMANA QURAISY MEMPERKUAT RASULULLAH SAW.
Artinya, akan ada kemiripan bagaimana Al Mansur memperkuat/mempermudah Al Mahdi sebagaimana Quraisy memperkuat/mempermudah Rasulullah SAW.
Coba renungkan poin-poin berikut ini;
-Quraisy adalah suku Rasulullah SAW -satu kota dengan Rasulullah SAW -bahkan mereka adalah keluarga Rasulullah SAW -Quraisy adalah ahli perang -Quraisy adalah panutan, memiliki kekuatan, dan PUNYA KEMAMPUAN UNTUK MEMBERIKAN PERLINDUNGAN (susah menjelaskan ini kalau tidak paham reputasi suku Quraisy) -Islamnya Quraisy menyebabkan Islamnya seluruh Jazirah Arab, dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam hadits diatas, dikabarkan bahwa Al Mansur akan memberikan hal yang sama kepada Al Mahdi sebagaimana yang diberikan oleh Quraisy kepada Rasulullah SAW.
Dan perlu dicatat bahwa Harits bin Harrats akan keluar sedangkan dihadapannya ada Al Mansur yang akan memimpin pasukannya sendiri di ikuti oleh Harris bin Harras bersama pasukannya untuk semakin memperkuat dan memudahkan Al Mahdi.
Singkatnya, ini sangat jelas bahwa Al Mansur adalah;
– seorang tentara berkuasa yg sewaktu-waktu mampu menyerahkan kekuasaannya pada Al Mahdi (sebagaimana digambarkan dalam banyak hadits dan atsar) – satu wilayah (kota/negara) dengan Al Mahdi, – punya hubungan kekerabatan dengan Al Mahdi, – mampu memberikan pasukan perang unggul sebagaimana Quraisy, – punya power kenegaraan sebagaimana power Quraisy kala itu, – ketika ketua tentara Pakistan percaya Mimpi Muhammad Qasim, maka hal itu akan membulatkan keyakinan masyarakat Pakistan terhadap Mimpi Muhammad Qasim yang pada akhirnya menyebabkan seluruh mukmin didunia berbondong-bondong memenuhi seruan Pakistan sebagaimana seluruh Jazirah Arab berbondong-bondong memenuhi seruan Quraisy ketika mereka telah menerima Kerasulan Muhammad SAW. – Thaifah Al Manshurah kemungkinan besar adalah pasukannya (sebenarnya Thaifah Al Manshurah ini cakupannya luas) – pasukan mereka tidak terkalahkan hingga yang terakhir dari mereka memerangi Dajjal,
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لا تزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق ، ظاهرين على من ناوأهم ، حتى يقاتل آخـرهم المسيح الدجال
”Akan senantiasa ada kelompok dari umatku yang berperang dalam kebenaran. Mereka akan menang menghadapi orang yang memusuhinya. Sampai akhir dari mereka akan memerangi Al-Masih Dajjal.”
Coba perhatikan sekali lagi Hadits diatas. Disana tertulis, “WAJIB SETIAP MUKMIN MENOLONGNYA”
Mengapa sampai wajib? Apa yang sedang terjadi/berlangsung saat itu sehingga setiap mukmin wajib menolongnya?
Jawabannya ada pada mimpi Muhammad Qasim. Yaitu, pada saat itu Pakistan adalah benteng pertahanan terakhir umat Islam sehingga setiap mukmin harus mempertahankan Pakistan dengan memberikan semua bantuan dalam bentuk APAPUN kepada ketua tentara karena ia sedang berada dalam SITUASI YANG AMAT SULIT (Bukan masalah uang, melainkan lebih kepada pasukan siap tempur).
itulah mengapa Harits Bin Harrats sampai keluar dari sarangnya UNTUK MEMPERKUAT PASUKAN AL MANSUR, dan sekaligus MEMPERMUDAH AL MAHDI.
“Tidaklah pantas, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di Bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 67)
“Sekiranya tidak ada ketetapan terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena (tebusan) yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 68)
Silahkan baca Asbabun Nuzul dua ayat tersebut agar lebih jelas. Atau jika Anda malas untuk mencarinya, maka ringkasnya adalah begini, “Rasulullah SAW dan semua sahabat (kecuali Umar RA) sepakat untuk mengambil uang tebusan dari musuh yang mereka tawan saat itu. Tapi Umar RA berpendapat sebaiknya nanti dulu setelah perang usai dan kemenangan sudah jelas ditangan kaum muslimin. Hingga turunlah dua ayat diatas untuk membenarkan pendapat Umar RA hingga Rasulullah SAW bersabda, ‘seandainya ALLAH menghukum kita atas hal ini, niscaya hanya Umar lah yang selamat’.”
Apa makna dari semua ini?
Ini menunjukkan bahwa ALLAH adalah Al-Haq (Yang Maha Benar) dan hanya DIA satu-satunya Pemilik Kebenaran Yang PASTI SELALU BENAR!
Memangnya apa yang kita tau kalau bukan karena ALLAH memberitahu kita baik itu melalui Wahyu yang ALLAH berikan lewat para Nabi, maupun melalui ilham-ilham tertentu pada manusia tertentu dengan cara-cara tertentu yang ALLAH Kehendaki diluar nalar manusia. Lalu kemudian pengetahuan itu tersebar dengan cara tertentu.
Semua Ilmu adalah milik ALLAH, dan segala sesuatu adalah milik-Nya.
Maka semua Kebenaran adalah Milik ALLAH, dan DIA adalah yang menyampaikan Kebenaran itu melalui “SIAPAPUN” yang DIA Kehendaki.
Semua Kebenaran yang keluar melalui Rasulullah SAW dan SELURUH Para Nabi ‘alayhimassalam tidak lain adalah SEMATA-MATA KARENA BIMBINGAN ALLAH LANGSUNG ATAS MEREKA.
Itu poin pertama yang harus kita pahami bersama.
Yang kedua, SADARILAH bahwa kita semua itu BODOH, tidak sempurna, TIDAK TAU SEGALANYA, TIDAK PAHAM SEGALA HAL, dan SUDAH PASTI banyak salahnya, ada kekurangannya, kelemahan berpikirnya dan lain sebagainya.
Jika sudah demikian, lalu pantaskah kita MENGIRA bahwa Sang Pemilik Kebenaran akan mengirim “Utusan” yangmana apa yang utusan tersebut sampaikan harus sesuai dengan “Selera” kita, dan harus sesuai dengan pemahaman kita?
Dan jika apa yang disampaikan oleh Utusan tersebut tidak sesuai dengan pemahaman “DANGKAL” kita, maka kita akan menolaknya??
Bukankah itu berarti bahwa kita sama saja dengan menganggap bahwa ukuran kebenaran adalah PEMAHAMAN DANGKAL KITA???
Alangkah angkuh dan sombongnya manusia yang selalu menjadikan PEMAHAMANNYA sebagai tolak ukur kebenaran. Padahal ALLAH lah Sang Pemilik Kebenaran dan satu-satunya yang SELALU BENAR.
Maka buanglah jauh-jauh sifat tersebut agar tidak menjadi penghalang bagi dirimu untuk menemukan YANG LEBIH BENAR DARI APA YANG KAU ANGGAP BENAR SELAMA INI.
Jika tidak, maka engkau akan terhenti pada tingkatan pengetahuanmu saat ini dan selamanya tidak akan berkembang.
Jadi silahkan kaji dalam-dalam semua Mimpi-mimpi Muhammad Qasim terlebih dulu sebelum menyimpulkan.
Jangan terburu-buru, dan buanglah rasa fanatik golongan dan sifat merasa paling benar agar hidayah bisa masuk.
Sekarang kita bergeser pada topik Al Mahdi.
Sekali lagi kami ingatkan, Al Mahdi berarti “Orang Yang Mendapat Petunjuk”.
Petunjuk tersebut tentunya ia HARUS dapatkan LANGSUNG dari ALLAH. Karena jika ia memperoleh petunjuk tersebut melalui perantara manusia atau katakanlah dengan cara berguru dan yang semisalnya, maka PERSELISIHAN dan PERBEDAAN PENDAPAT diantara kita (umat Islam) TIDAK AKAN ADA AKHIRNYA.
Mengapa?
Sebab pendapat seorang manusia akan terus dibantah oleh manusia lainnya dan ini akan terus berlanjut tanpa kesudahan.
Ini adalah sifat manusia yang cenderung memiliki ego dan arogansi untuk terus mempertahankan pendapatnya.
Lalu bagaimana Al Mahdi dapat menyelesaikan semua perbedaan pendapat tersebut?
Jawabannya adalah,
[MIMPI YANG DIPERLIHATKAN OLEH ALLAH PADA AL MAHDI ADALAH SATU-SATUNYA SOLUSI]
Mengapa harus melalui mimpi?
Karena mimpi adalah SATU-SATUNYA UNSUR KENABIAN YANG MASIH TERSISA!
Pesan TERAKHIR dari Rasulullah SAW, menjelang wafat nya; dari Abdullah bin Abbas dia berkata: “Rasulullah SAW suatu saat menyingkap tirai, dan kepalanya dililit (diperban) dengan kain karena sakit -yang akhirnya menyebabkan beliau meninggal dunia- lalu beliau SAW bersabda: ‘Ya Allah, telah kusampaikan -tiga kali-, sesungguhnya TIDAK TERSISA lagi KABAR KE-NABI-AN (Petunjuk) KECUALI MIMPI yang benar, yakni mimpi yang dilihat SEORANG muslim atau diperlihatkan kepada SEORANG hamba.” [HR Ibn Majah & Nasai, Sahih]
Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidak tersisa dari kenabian, kecuali Al-Mubasysyirat (Kabar Gembira & Peringatan-peringatan).” Mereka bertanya, “Apa itu Al-Mubasysyirat?” Rasulullah SAW menjawab,“ MIMPI yang BAIK dan BENAR.” (HR. Bukhari, Sahih)
Al Mahdi bukan Nabi, tapi disisi lain Rasulullah SAW sudah menjelaskan dalam banyak hadits shohih nya bahwa Al Mahdi itu sifatnya “DIUTUS” oleh ALLAH SWT.
Sebagai contoh,
Dan darinya (Abu Sa’id) Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Aku berikan kabar gembira kepada kalian dengan al-Mahdi, yang DIUTUS saat manusia BERSELISIH dengan banyaknya keguncangan. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kelaliman dan kezhaliman sebelumnya. Penduduk langit dan penduduk bumi meridhainya, ia akan membagikan harta dengan cara shihaah (merata)….’ (HR. Ahmad, Tirmidzi dan lainnya, SHOHIH)
Al Mahdi haruslah orang yang akan MENENGAHI PERSELISIHAN diantara umat Islam. Al Mahdi akan memperjelas hukum-hukum yang tidak jelas. Ia akan meluruskan yang bengkok dan menyatukan yang terpisah (terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok).
Sebagaimana yang bisa kita lihat sendiri saat ini, umat Islam telah TERPECAH BELAH menjadi banyak golongan (firqoh atau apapun sebutannya).
Masing-masing golongan menganggap bahwa merekalah yang paling benar.
Masing-masing kelompok bersikukuh bahwa Ulama mereka dan guru dari kalangan merekalah yang paling benar dan seterusnya.
Pernahkah terpikir oleh Anda bagaimana Al Mahdi akan menyelesaikan semua perbedaan pendapat YANG TIDAK BERKESUDAHAN itu, dan menengahi semua perbedaan yang ada di antara umat Islam?
Apakah menurut Anda Al Mahdi akan menengahi kita dengan mengatakan, “MENURUT YANG SAYA PELAJARI DARI GURU SAYA, yang benar adalah begini, alasannya begini, dan seterusnya”?
Seperti itukah menurut Anda?
Kami yakin 1000% jika begitulah cara dakwah Al Mahdi maka dia akan mendapatkan jawaban-jawaban (bantahan) seperti ini, “TIDAK BISA DITERIMA! GURU KAMI si Anu berkata begini, alasannya begini, dalilnya begini….” dan seterusnya.
Anda tau kenapa?
Karena yang namanya mengandalkan pendapat guru AKAN SELAMANYA mendapat bantahan dari pendapat guru yang lain.
Jadi tidak mungkin seorang Al Mahdi adalah seseorang yang berargumen dengan berpatokan pada pendapat manusia (semisal Syekh, Ustadz, Guru dan yang semacamnya).
Al Mahdi haruslah seseorang yang dibimbing langsung oleh ALLAH Tuhan Semesta Alam.
Al Mahdi akan berhujjah langsung dengan membawa Nama ALLAH. Apapun yang Al Mahdi sampaikan adalah apa yang IA TERIMA LANGSUNG DARI ALLAH SWT.
Mengapa harus demikian? Silahkan baca ulang poin 1 dan 2 diatas.
Islam memang telah sempurna,
namun sadarilah, kesempurnaan itu telah memudar seiring berjalannya waktu.
Itulah mengapa Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa,
tidak akan tersisa dari Al-Qur’an selain tulisannya,
Islam awalnya asing dan akan kembali asing,
mesjid kalian megah tapi kosong dari hidayah,
sungguh kalian akan mengikuti ‘suatu kaum’ sejengkal demi sejengkal hingga ketika mereka masuk lubang biawak niscaya kalian pun akan mengikutinya,
umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali 1 golongan saja,
dan masih banyak lagi yang semisalnya.
Lalu apa arti semua itu?
Ini tidak lain bahwa bukan Islam nya yang sudah tidak sempurna melainkan karena kita lah yang SUDAH RUSAK!
Dan mirisnya pada saat yang sama, kita yang sudah rusak ini semuanya malah merasa paling benar.
Perhatikanlah para Ulama kita hari ini. Yang satu sibuk membahas satu Bab tertentu saja sementara yang lainnya sibuk pada satu Bab tertentu lainnya.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa mereka tidak baik. Tapi yang coba saya sampaikan adalah,
apakah menurut Anda tidak ada poin yang terlewat dari pembahasan mereka?
Bagaimana jika apa yang mereka lewatkan justru adalah poin terpenting dari ajaran Islam itu sendiri??
Pernahkah Anda memikirkan hal itu?
Itulah mengapa Al Mahdi diperlukan. Yaitu seorang yang menerima petunjuk langsung dari ALLAH untuk mengingatkan kita tentang POIN-POIN YANG TERABAIKAN.
Maka jangan heran ketika Al Mahdi muncul ia akan ditolak! Karena Al Mahdi akan TERDENGAR ASING (seperti yang Rasulullah wanti-wanti).
Yang sebenarnya bukan karena apa yang disampaikan Al Mahdi yang asing, melainkan karena kita sendirilah yang lalai, lupa, dan bahkan mungkin mengabaikannya.
AL MAHDI TIDAK AKAN MENGADA-ADA!
Apa yang ia sampaikan PASTI DAPAT DITEMUKAN PENJELASANNYA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS (Jika kita dengan sungguh-sungguh mau mencarinya).
Jadi apapun yang ia sampaikan, tentulah itu semata-mata apa yang ia dapatkan LANGSUNG DARI ALLAH SWT.
Perlu dicatat bahwa Al Mahdi sudah barang tentu adalah seorang Mujaddid (Pembaharu). Jadi jangan heran bila Anda mendengar sesuatu yang SEOLAH-OLAH SESUATU YANG BARU dari dirinya.
Hakikatnya itu BUKANLAH SEBUAH HUKUM YANG BARU melainkan karena perkaranya lah yang baru. Dasar-dasar hukum dari apa yang ia sampaikan sudah pasti ada dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan ia hanya akan mempertegas saja.
Kita tentu sudah sama-sama tahu bahwa pada setiap 100 tahun ALLAH akan munculkan seorang Mujaddid untuk Memperbarui (MEMPERBAIKI) Islam ini.
CONTOH;
Muhammad Qasim mengatakan bahwa dalam mimpi-mimpinya ALLAH menjelaskan bahwa ternyata menonton film yang didalamnya terdapat Tuhan-tuhan palsu adalah SYIRIK.
Anda jangan mengatakan bahwa Qasim sesat, mengada-ada, bawa hukum baru seolah-olah hukum dan syariat Islam belum sempurna dan lain sebagainya.
Sebab,
Coba jelaskan, sejak kapan televisi ada?
Apakah di zaman Nabi sudah ada televisi yang mempertontonkan Tuhan-tuhan palsu??
Jangankan di zaman Nabi, bahkan televisi belum ada di zaman Para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan ribuan tahun setelah itu.
Televisi baru muncul pada abad 19 (tepatnya pada tahun 1925) yang berarti belum sampai 100 tahun.
Lalu bagaimana mungkin Rasulullah SAW sudah menentukan hukum menonton film yang didalamnya terdapat Tuhan-tuhan palsu adalah SYIRIK sementara pada saat itu televisi belum ada?
Bisa-bisa Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum geger otak berjamaah jika mereka mendengar nama “Televisi” kala itu (karena terdengar aneh bagi mereka).
Maka dari itu jelaslah bahwa dasar-dasar hukumnya lah yang telah ALLAH tetapkan melalui Rasulullah SAW saat beliau masih hidup, dan selanjutnya tergantung Kebijaksanaan ALLAH untuk MEMPERJELAS hukum-hukum atas perkara-perkara baru SEIRING KEMAJUAN ZAMAN dengan cara-cara yang ALLAH Kehendaki (Terserah ALLAH dengan cara apa dia hendak memperjelas hukum-hukum tersebut kepada Para Mujaddid setiap 100 tahun. Entah itu dengan mengilhami mereka melalui mimpi, kecerdasan, atau dengan cara-cara yang DILUAR NALAR manusia).
Sungguh jelas bahwa ciri-ciri Al Mahdi ada pada sosok Muhammad Qasim itu sendiri. Namun sayangnya kebanyakan manusia malah menertawakan dan meremehkannya.
Jangan tertawa ketika dia mengatakan bahwa gambar ikan pada kaleng sarden adalah termasuk syirik.
Dia tidak mengada-ada dan dia tidak sedang membuat-buat hukum baru.
Dia HANYA MEMPERJELAS DAN SEMUA ITU ADA LANDASANNYA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS.
Dan dia hanya menyampaikan apa yang ia dapatkan LANGSUNG DARI ALLAH SWT melalui mimpi-mimpinya.
Bagaimana bisa gambar ikan pada kaleng sarden adalah termasuk syirik?
Pertama, hukum asal menggambar makhluk bernyawa adalah dilarang (haram).
Kedua, siksaan ALLAH paling berat pada hari kiamat adalah bagi tukang gambar.
Ketiga, dosa terbesar adalah syirik,
Coba hubungkan ketiga poin tersebut. Bukankah itu berarti bahwa gambar jatuh pada syirik?
Sebab disana dijelaskan bahwa tukang gambar mendapatkan siksaan paling berat di hari kiamat. Siksaan paling berat tentunya diberikan kepada orang yang melakukan pelanggaran (dosa) paling besar. Sementara itu, dosa besar sendiri tidak lain adalah syirik.
Jadi bukankah itu berarti bahwa perbuatan menggambar makhluk bernyawa tersebut adalah termasuk syirik?
Bukankah begitu menurut Anda??
Ini bukan cocokologi melainkan karena memang cocok, sesuai dan MASUK AKAL!
ALLAH telah memberikan kita AKAL untuk dapat berpikir sehingga kita bisa menerima dan mengakui kebenaran yang Muhammad Qasim sampaikan. (Silahkan baca tulisan kami yang berjudul “Mengenali Syirik Secara Matematis Berdasarkan Dalil-dalil yang Ada” disini
Jadi jangan katakan bahwa Muhammad Qasim telah membawa hukum-hukum baru.
Yang baru adalah zamannya. Di zaman serba canggih dan modern ini banyak perkara baru yang hukumnya tidak jelas dan para Ulama sendiri berbeda-beda pendapat tentangnya.
Itulah mengapa Al Mahdi DIPERLUKAN!!!
Yaitu untuk memperjelas segala sesuatu dengan apa yang ia terima langsung dari ALLAH SWT.
Jadi jangan berpikir bahwa seorang Al Mahdi akan berdebat dengan pemahaman pribadinya yang kemudian dengan pemahaman pribadinya tersebut ia akan mampu menyatukan seluruh kaum muslimin di seluruh dunia.
Silahkan baca tulisan kami yang berjudul “Al Mahdi Menegakkan Khilafah?” pada link berikut
agar semakin terlihat jelas bagaimana sebenarnya cara Al Mahdi menyatukan seluruh kaum muslimin dibawah satu Panji.
InsyaAllah dengan membaca tulisan tersebut akan semakin memperjelas bagi mereka yang mau membuka mata bahwa Al Mahdi itu sendiri tidak lain adalah Muhammad Qasim.
Pada hakikatnya, akan dapat ditemukan Ulama-ulama yang pendapatnya sejalan dengan apa-apa yang Muhammad Qasim sampaikan.
Sebagai contoh, Muhammad Qasim mengatakan bahwa memajang foto maupun gambar makhluk bernyawa yang tidak perlu hukumnya adalah syirik.
Disisi lain, Buya Yahya dalam salah satu ceramahnya pernah menyampaikan tentang perbedaan pendapat ulama tentang hukum memajang foto maupun gambar tersebut. Tonton videonya disini https://youtu.be/NkBk2R4S08M
Apa yang Buya Yahya sampaikan dalam video tersebut jelas menunjukkan bahwa Para Ulama sendiri berbeda-beda pendapat tentangnya.
Dengan kata lain, ini membuktikan bahwa tidak semua ulama selalu sepakat dengan satu hukum atas perkara tertentu sehingga menyebabkan hukum itu bisa disebut “zona abu-abu”. Inilah yang kemudian menjadi bahan perdebatan tak berkesudahan hingga akhirnya kita hidup diatas hukum-hukum penuh ketidakjelasan disebabkan tidak ditemukannya kesepakatan bersama diantara para Ulama kita sendiri.
Lalu adakah jaminan bahwa pendapat ulama A adalah yang benar sementara ulama B sudah pasti salah?
Tentu jawabannya adalah ALLAH lah yang lebih tau.
Lalu siapakah sosok yang akan MENEGASKAN tentang hukum sebenarnya dari apa yang mereka perselisihkan tersebut?
Tentulah hanya Al Mahdi yang akan bisa MENEGASKAN tentang hukum-hukum tersebut dengan apa yang ia terima langsung dari ALLAH.
Disinilah kita akan diuji dengan kehadiran Al Mahdi. “UJIAN YANG SANGAT BERAT.”
Jumlah yang banyak tidak akan menjadi ukuran kebenaran. Meskipun 99 ulama mengatakan bahwa hukum memajang foto adalah halal, sementara hanya 1 ulama yang mengatakan bahwa itu haram, maka pendapat 1 Ulama tersebut bisa jadi adalah yang benar sementara 99 lainnya adalah salah. Begitu juga sebaliknya.
Dan perlu kita garis bawahi bahwa, “MENGHALALKAN APA YANG DIHARAMKAN OLEH ALLAH HUKUMNYA ADALAH SYIRIK!” Dan begitu juga sebaliknya.
Apakah Anda pernah mendengar ada ulama yang berkata seperti itu?
Apakah menurut Anda Syekh Imran Hussein hanya asal bicara tanpa landasan ilmu?
Tentu saja beliau tidak hanya asal bicara melainkan semua itu dapat ditemukan landasannya dalam Al-Qur’an dan Hadits. Silahkan tonton video tersebut dan lakukan penelitian sendiri jika Anda belum puas.
Maka jika hukum asal menggambar makhluk bernyawa adalah haram, dan memajangnya juga telah dilarang oleh Rasulullah SAW dalam berbagai Hadits shohih nya, lalu kemudian hari ini kita terbiasa dengan gambar-gambar tersebut alias telah menghalalkannya, BUKANKAH ITU BERARTI BAHWA KITA TELAH MENGHALALKAN APA YANG DIHARAMKAN OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA? DAN BUKANKAH ITU BERARTI BAHWA KITA TELAH MELAKUKAN SYIRIK??
Renungkanlah itu.
Lalu apa arti dari semua ini?
Ini jelas menunjukkan bahwa Islam memang sudah sempurna dan APAPUN YANG MUHAMMAD QASIM SAMPAIKAN PASTI AKAN DAPAT DITEMUKAN JUGA ULAMA YANG SEPENDAPAT DENGAN APA YANG IA SAMPAIKAN.
Yang artinya adalah, Muhammad Qasim tidaklah mengada-ada dan tidak pula ia membawa hukum-hukum baru.
Dia tidak lain adalah sebagai sosok yang akan menjadi patokan utama dalam MENEGASKAN HUKUM-HUKUM TERSEBUT.
Kita akan berpatokan kepada petunjuk yang ALLAH berikan lewat Al Mahdi.
Karena sebagaimana yang kami sebutkan di atas, TIDAK SEORANGPUN YANG SELALU BENAR ATAS SEMUA PENDAPATNYA!
Hanya ALLAH lah yang selalu Benar karena DIA MAHA BENAR, dan DIA mengutus Al Mahdi untuk memperbaiki semua yang telah rusak itu, dan menengahi semua perbedaan pendapat diantara kita.
Jadi jangan harap jika Al Mahdi akan berdebat seperti halnya kita berdebat.
Artinya, dia hanya akan menyampaikan apa yang ia terima langsung dari ALLAH saja. Selebihnya adalah menjadi tugas kita UNTUK MENGUKUR DAN MENGUJI SEMUA YANG IA SAMPAIKAN APAKAH ITU SEJALAN DENGAN AL-QUR’AN DAN HADITS, ATAU JUSTRU SEBALIKNYA.
Saat semua yang ia sampaikan terbukti dan teruji kebenarannya, maka disitulah umat Islam akan membaiat paksa dirinya.
Maka Al Mahdi seperti apakah yang kalian tunggu?
Masihkah Anda berpikir bahwa Al Mahdi akan berdakwah sesuai selera Anda??
Lalu kemudian menolaknya dikarenakan apa yang dia sampaikan tidak sesuai dengan pemahaman kita selama ini???
Pikirkanlah itu.
Dan ketika Para Nabi sendiri selalu mengawali dakwah mereka dengan Tauhid dan memberantas segala bentuk syirik, maka seorang Al Mahdi juga SUDAH PASTI AKAN MENGAWALI DAKWAHNYA DENGAN CARA YANG SAMA.
Mengapa dakwah tentang Tauhid dan memberantas segala bentuk kesyirikan adalah hal pertama yang SELALU dilakukan oleh Para Nabi dan begitu juga dengan apa yang dilakukan oleh Al Mahdi?
Ini persis seperti apa yang sedang dilakukan oleh Muhammad Qasim saat ini yaitu memberantas segala bentuk kesyirikan agar pertolongan Allah SWT segera datang.
Maka hindarilah sebelum tiba hari dimana penyesalan sudah tidak berguna.
Jazakumullah khair
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita diatas Kebenaran, Aamiin.
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku
Kata Pengantar Himpunan Terjemahan Penceritaan Mimpi Muhammad Qasim Ibn Abdul Karim (Al-Quds)
KATA-KATA ALUAN
بِسْــــــــــــــــــم ِ اﷲِالرحَّْمَنِ اارحَِّيم السَّلامَُ عَلَيْكُمْ وَرحَْمَةُاللهِ وَبرََكَاتُه Alhamdulillah, segala puji dan syukur ke hadrat Ilahi kerana dengan izin dan limpah kurnia-Nya, sampai saat ini kita masih lagi mengecapi nikmatnikmat-Nya yang berlimpah-ruah. Selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad ﷺ. Syukur yang tidak terhingga kerana di sini, dapat dihimpunkan koleksi susunan penceritaan mimpi yang dianugerahkan kepada Muhammad Qasim bin Abdul Karim. Pesanan penyusun kepada semua pembaca: Harus di ingat, penulisan ini adalah daripada penceritaan asal dalam Bahasa Urdu dan kemudian diterjemahkan ke Bahasa Inggeris, dan akhirnya terhasil satu penulisan terjemahan ke Bahasa Melayu yang dimuatkan ke dalam teks ini. Semua perbendaharaan kata digunakan mengikut kesesuaian tatabahasa dan konteks Bahasa Melayu. Teks ini tanya memuatkan himpunan mimpi asas Muhammad Qasim sehingga bulan April 2022. Segala kekurangan mahupun kelemahan untuk hasil kerja ini adalah kepunyaan kami sendiri. Dengan rendah hati, anda semua dijemput bertabayyun untuk mengamati isi kandungan mimpi-mimpi ini. Kerana demi Allah ﷻ mimpi ini adalah rahmat yang murni dari-Nya. Ia adalah khabar gembira buat semua pencinta kedamaian.
Tempayan penuh air, keruh atau jernih Asing tapis kotor ambil yang bersih Belenggu zon selesa dicabut memang pedih Andai sukar terima usah cepat kalih Yuk telaah dengan jiwa suci putih Yakin akan menyusul, di awal jerih Untung keluar takuk lama insan terpilih Nadi berdenyut masa terus beralih
Selamat membaca! In Shaa Allah. MUQADDIMAH
إنَِّ الْحَمْدَ للهَِّ نَحْمَدُهُ وَنًسْتعَِينْهُُ وَنًسْتغَْفِرهُْ وَنًعُوذً بِِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنَفُْسِناَ وَمِنْ سَ ِّيئاَتِ أعَْمَالنِاَ، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْللِْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أشَْهَدُ أنَْ لاَ إلَِهَ إلِاَّ الله وَأشَْهَدُ أنََّ مُحَمَّدًا عَبدُْهُ وَرسَُوْلُهُ Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menjadikan mimpi sebagai bentuk perhubungan-Nya kepada para hamba-Nya sebagai baki terakhir khabar nubuwwah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada penutup para Nabi, baginda Nabi Muhammad ﷺ yang telah membacakan kepada kita ayatayat-Nya, menyucikan kita dan mengajarkan kita Kitab dan Hikmah. Mimpi sememangnya mempunyai kepentingan tertentu di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Di dalam Al-Quran ada 7 tempat yang membahaskan tentang mimpi, dan 4 tempat dari itu ada di dalam surah Yusuf. Maklum oleh umat Islam, surah Yusuf dicatat sebagai sebaik-baik cerita, dan di dalamnya mempunyai fokus tentang mimpi, sehingga sebahagian ahli tafsir menyebutkan Surah Yusuf sebagai surah mimpi. Sedikit ibrah dan pelajaran yang dapat diambil dari satu kisah di dalam surah Yusuf adalah, walaupun kepada raja dan rakyat yang tidak beriman kepada-Nya, Allah ﷻ memberikan kepada raja itu sebuah mimpi sebagai petunjuk agar kerajaan itu terselamat dari kedasyatan kemarau yang berpotensi membunuh rakyat di bawah naungan kerajaannya. Allah ﷻ juga mendatangkan Nabi-Nya yang telah diajarkan ilmu takwil mimpi dan pengurusan pembendaharaan untuk menguruskan persiapan rakyat itu menghadapi kemarau yang mencengkam. Maka apatah lagi kompilasi kedasyatan pelbagai fitnah dan huru hara akhir zaman yang akan dihadapi umat terakhir. Maka telah wujud hadith Rasulullah ﷺ tentang kedudukan mimpi di akhir zaman sebagai tanda rahmat dan kasih sayang dari Allah ﷻ untuk umat terakhir. قَالَ رسَُولُ اللهَِّ صَلَّى اللهَُّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَِا اقْترَبََ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ تَكْذِبُ رُؤْيَا المْؤُمِْنِ وَرُؤْيَا المْؤُمِْنِ جُزْءٌ مِنْ سِتةٍَّ وَأرَْبَعِينَ جُزءًْا مِنْ النبُّوَُّةِ وَمَا كَانَ مِنْ النبُّوَُّةِ فَإِنَّهُ لاَ يَكْذِبُ Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika zaman semakin mendekat, mimpi seorang mukmin nyaris tidak bohong, dan mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bahagian kenabian, dan apa yang berasal dari kenabian tentu tidaklah bohong”. (Sahih Bukhari 6499) Di dalam As-Sunnah juga banyak mencatatkan tentang mimpi dan kedudukannya di dalam Islam. Sebagai contoh, penetapan syariat azan, rahsia Lailatul Qadar, bahkan sebagai cara pertama Allah ﷻ berhubung dengan baginda ﷺ sebelum baginda ﷺ dilantik menjadi Nabi dan Rasul. Allah ﷻ berfirman: لَهُمُ الْبشُْرٰى فِى الْحَيوٰةِ الدُّنْيَا وَفِى الاْٰخِرةَِۗ Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Yunus : 64) Surah Yunus ayat 64 ini telah tafsirkan oleh Rasulullah ﷺ sendiri. Dari Abu Darda’, Rasulullah ﷺ bersabda: رy سَُ ولَ اللهَِّ yصَ لَّى اللهَُّ yعَ لَيْهِ وَy سَ لَّمَ قَyالَ بُy شْ راَy هُ مْ yفِ ي الْyحَيَاةِ الyدُّنْyيَا الyرُّؤْيَyا الyصَّالِyحَةُ يَyراَy هَ ا المْy سُْ لمُِ أوَْ تُyرَى لَyهُ وَبُy شْ راَy هُ مْ فِي الآْخِرةَِ الْجَنةَُّ “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia, yaitu mimpi benarnya seorang muslim atau yang dimimpikan oleh seorang Muslim, sedangkan kabar gembira di kehidupan akhirat adalah syurga” [Musnad Ahmad : 26250] Dalam Shahih Muslim, “Rasulullah ﷺ membuka tirai penutup, dan manusia pada waktu itu bersaf-saf dibelakang Abu Bakar radiallahu’anhu maka baginda ﷺ bersabda, “Wahai manusia, tidak tersisa dari khabar kenabian kecuali mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya.” Di dalam Sunan An-Nasai dan sunan Ibn Majah “Rasulullah ﷺ satu ketika menyingkap tirai penutup dan kepalanya dibalut dengan kain kerana sakit – yang kerana itu menyebabkan baginda meninggal dunia- lalu Baginda ﷺ bersabda: “Ya ALLAH, telah kusampaikan (Beliau mengulanginya 3x), sesungguhnya tidak tersisa lagi khabar kenabian kecuali mimpi yang benar, yakni mimpi yang dilihat SEORANG muslim atau diperlihatkan kepada seorang hamba”. Ubadah bin Shamith radiallahu’anhu berkata: ”Mimpi seorang mukmin adalah sebuah kalam (pembicaraan) yang Allah berbicara dengan hambaNya ketika tidur.” [Madarij Al Salikin, 1/51] Maka kerana itu seorang muslim tidak boleh menutup mata dan telinganya ketika sampai kepadanya tentang seorang muslim sunni yang mengaku telah bermimpi ratusan kali berbicara dengan Allah ﷻ di balik hijab dan berbicara dengan Nabi Muhammad ﷺ di dalam mimpi-mimpinya.
Ya. Pada tahun 2014 telah muncul seorang muslim sunni dari Pakistan bernama Muhammad Qasim bin Abdul Karim yang mengaku telah ratusan kali berbicara dengan Allah ﷻ dan Nabi Muhammad ﷺ di dalam mimpinya dan diperintahkan untuk menyebarkan mimpinya ke seluruh dunia. Banyak orang telah menuduh Muhammad Qasim gila dan tidak mempedulikan apapun yang ia katakan. Ada pula orang yang menuduhnya berdusta tanpa terlebih dahulu meneliti dan memeriksa kebenarannya. PARA ULAMA’ BERPENDAPAT BOLEHNYA BERLAKU SESEORANG BERMIMPI BERTEMU ALLAH ﷻ ————— Para ulama’ bersepakat bahawa bolehnya berlaku kepada seseorang bermimpi bertemu Allah ﷻ sebagaimana dinukilkan, contohnya Al-Hafiz Ibn Hajar telah menyebutkan di dalam (kitabnya) Fathul Bari, dari Al-Qadi ‘Iyadh, bahawa beliau berkata: Tidak berselisih para ulama’ pada bolehnya melihat Allah di dalam tidur (mimpi). Dan An-Nawawi telah menyebutkan di dalam Syarh Sahih Muslim, dari AlQadi, bahawa beliau berkata, para ulama’ bersepakat pada bolehnya melihat Allah di dalam mimpi dan kesahihannya. Tamat maksud dari kalamnya. Dan Al-Baghawi telah menyebutkan di dalam kitabnya Syarhus Sunnah, dari Al-Imam – iaitu Syeikhnya Al-Qadi Husain Muhammad bin Ahmad Abu Ali Al-Marwardzi, seorang Syeikh dalam mazhab Syafii di zamannya, bahawa beliau berkata: Melihat Allah di dalam mimpi itu boleh (berlaku). Jika seseorang melihat-Nya maka (takwilnya) dijanjikan baginya syurga, atau keampunan, atau keselamatan dari neraka. Dan perkataan-Nya haq, dan janji-Nya benar. Dan jika seseorang itu melihat Allah ﷻ sedang memandang kepadanya, maka (takwilnya) adalah rahmat-Nya, jika dia melihat Allah ﷻ berpaling darinya, maka (takwilnya) peringatan dari perlakuan dosa-dosa, berdasarkan firman Allah ﷻ: “Mereka itu tidak ada bahagian untuk mereka di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak akan memandang kepada mereka” [Ali Imran: 77] (lihat Kitab Ar-Ru’ya oleh Syeikh Hamud At-Tuwaijiri) ALAMAT/PETANDA MIMPI BENAR DARI ALLAH ————— Mimpi-mimpi benar dari Allah ﷻ itu dapat dikenali melalui beberapa tanda atau alamat seperti yang dijelaskan oleh para ulama’.
Bentuk berita gembira (dan peringatan). Berdasarkan hadith: رسَُولَ اللهَِّ صَلَّى اللهَُّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يبَقَْ مِنْ النبُّوَُّةِ إلِاَّ المْبُ ِّشَراَتُ قَالُوا وَمَا المْبُ ِّشَراَتُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ Rasulullah ﷺ bersabda: “Kenabian tidak ada lagi selain berita gembira”. Para sahabat bertanya; “Apa maksud kabar gembira?” Nabi ﷺ menjawab; “Mimpi yang baik”. (Sahih Bukhari 6475).
Orang yang bermimpi merasa gembira dan bahagia ketika bermimpi dan setelah bangun dari mimpi. Berdasarkan hadith Nabi ﷺ, dari Abu Sa’id Al-Khudri radiallahu’anhu meriwayatkan bahawa dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: إذَِا رأَىَ أحََدُكُمْ الرُّؤْيَا يُحِبهَُّا فَإِنمََّا هِيَ مِنْ اللهَِّ فلَْيَحْمَدْ اللهََّ عَلَيْهَا وَلْيُحَ ِّدثْ بِمَا رأَىَ “Apabila salah seorang diantara kalian melihat mimpi yang menggembirakannya maka itu berasal dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah karenanya dan menceritakan apa yang ia lihat”. (Shahih Bukhari 6523)
Wujud perintah kepada yang ma’ruf dan larangan daripada kemungkaran. Juga galakan kepada melakukan ketaatan atau amaran dari melakukan maksiat. Perkara ini mestilah tidak bertentangan dengan syariat dan bukanlah perkara yang baru. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: “Dan mimpi para Nabi adalah wahyu, karena mimpi mereka terjaga dari syaitan; dan ini sudah menjadi kesepakatan umat (Islam); oleh karena itu Al-Khalil (Nabi Ibrahim ‘alaihissalam) mahu menyembelih putranya Ismail ‘alaihissalam hanya karena mimpi. Adapun mimpi selain mereka maka harus diselarikan dengan wahyu yang jelas; jika selari (maka diterima), jika tidak maka tidak boleh diamalkan”. (Madaarijussalikin 1/51)
Sesuai dan dapat dita’bir dengan kaedah mimpi. Jika mimpi tersebut tidak sesuai dan bertentangan dengan kaedah ta’bir mimpi, maka menjadi tanda bahawa ia bukanlah mimpi benar dari Allah ﷻ.
Kejujuran orang yang bermimpi. Berdasarkan hadith Nabi ﷺ: وَأصَْدَقُكُمْ رُؤْيَا أصَْدَقُكُمْ حَدِيثاً Ertinya: Sebenar-benar mimpi adalah dari sejujur-jujur perkataan. (HR Muslim) Maka dilihat dari watak yang bermimpi. Jika ia dikenali masyarakat dan lingkungannya sebagai seorang yang benar dan jujur, maka mimpimimpinya juga cenderung benar dari Allah ﷻ.
Mendekatnya akhir zaman. Berdasarkan hadith: Dari abu Hurairah Radiallahu, Rasulullah ﷺ bersabda : قَالَ رسَُولُ اللهَِّ صَلَّى اللهَُّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَِا اقْترَبََ الزمََّانُ لَمْ تَكَدْ تَكْذِبُ رُؤْيَا المْؤُمِْنِ وَرُؤْيَا المْؤُمِْنِ جُزءٌْ مِنْ سِتةٍَّ وَأرَْبَعِينَ جُزءًْا مِنْ النبُّوَُّةِ وَمَا كَانَ مِنْ النبُّوَُّةِ فَإِنَّهُ لاَ يَكْذِبُ Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika zaman semakin mendekat, mimpi seorang mukmin nyaris tidak bohong, dan mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bahagian kenabian, dan apa yang berasal dari kenabian tentu tidaklah bohong”. (Sahih Bukhari 6499) Al-Hafizh Ibnu Hajar meriwayatkan dari Ibn Abi Jamrah Rahimahullah: Pada akhir zaman mimpi seorang mukmin hampir-hampir tidak mengandungi kebohongan ertinya mimpi itu memiliki sifat dan makna yang jelas. Sehingga, tidak memerlukan penakwilan yang diliputi kebohongan. Bahkan, mimpi itu benar-benar menjadi kenyatan. Berbeza dengan mimpi orang lain yang memerlukan penakwilan. Sehingga mimpi itu perlu ditafsirkan oleh seorang pentakwil mimpi. Tetapi, hasilnya tidak sesuai dengan realiti yang ada. Pada akhir zaman, kebenaran mimpi seorang Mukmin ini mengandungi hikmah, kerana pada ketika itu setiap orang beriman akan terasing di tengah-tengah masyarakatnya. Perkara ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ yang mengatakan, “Islam muncul dari keterasingan dan nanti akan kembali kepada keterasingan”. Pada saat itu, pendamping dan penolong seorang mukmin akan semakin berkurang. Namun, Allah ﷻ akan memuliakan dengan mimpi baik yang dapat memberinya khabar gembira dan meneguhkannya di jalan kebenaran. Ibn Bathtal berkata: “Dalam pengertian hadith ini, jika kiamat semakin hampir dan kebanyakan ilmu telah diangkat, dan ciri-ciri agama dipelajari dalam keadaan huru-hara dan fitnah, maka manusia memerlukan seorang pemberi peringatan dan pembaharu agama tentang apa yang dipelajari di dalam agama, sebagaimana umat-umat terdahulu telah diingatkan kepada nabi-nabi, tetapi kerana Nabi ﷺ kita adalah penutup nabi-nabi, maka tidak ada Nabi lagi selepasnya. Manakala zaman fitnah itu menyerupai zaman fatrah, maka digantikanlah untuk mereka dari apa yang mereka terhalang (mempelajarinya) dengan mimpi yang benar yang merupakan juzuk dari khabar kenabian yang berisi berita gembira dan peringatan.” Ibn Hajar juga menyebutkan bahawa sebahagian berpendapat bahawa ia akan berlaku di zaman Al-Mahdi, ketika ditebarkan keadilan dan rasa keamanan, juga ditebarkan kebaikan dan rezeki. [Lihat Fathul Bari, Kitab Ta’bir]
Mimpi yang berulang dari orang yang sama atau orang lain. Berdasarkan hadith riwayat al-Bukhari tentang LailatulQadar. Di mana beberapa sahabat bermimpi bahawa Lailatulqadar berlaku pada 7 malam terakhir dan beberapa sahabat lain bermimpi bahawa Lailatulqadar berlaku pada 10 malam terakhir. Maka berdasarkan mimpi-mimpi ini Nabi ﷺ mengambil 10 malam terakhir sebagai merangkumi kesemua mimpi mereka. Bahkan al-Bukhari meletakkan tajuk ةy رؤيy لى الy ؤ عy تواطyال. Mengisyaratkan keserupaan dalam mimpi adalah penguat kepada kebenaran mimpi. Al-Hafiz Ibnu Hajar Rahimahullah juga dalam mensyarahkan hadith ini mengatakan, “diambil faidah dari hadith ini, bahawa keserupaan (mimpi) dari jamaah (sekumpulan manusia) pada mimpi yang sama, menjadi petunjuk akan kebenaran dan kesahihannya, sepertimana diambil faidah dari kekuatan khabar yang diambil dari jamaah pada sesuatu khabar”. (Lihat Fathul Bari, Kitab Ta’bir).
Mimpi terlihat jelas. Berdasarkan hadith: عن عائشة قالت: “أول ما بدىء بِهِ رسَُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهَُّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مِنَ الوَحي الرُّؤْيَا الصَّادِقَةُ فِي النوَّْم ِ، . فَكَانَ لاَ يرََى رُؤْيَا إلاَّ جَاءتْ مِثلَْ فلََقِ الصبح Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah ﷺ ialah mimpi yang benar di dalam tidur. Setiap kali bermimpi, baginda ﷺ tidak melihat di dalam mimpi tersebut kecuali bagaikan cahaya yang terang di pagi hari. (HR Bukhari dan Muslim) Imam An-Nawawi mensyarahkan di dalam Syarh Sahih Muslim, “Berkata ahli lughah, bahawa cahaya terang di pagi hari menunjukkan terangnya cahayanya, dan sesungguhnya hanya dikatakan ini, pada sesuatu yang terang dan jelas”.
Mimpi itu berkesinambungan.
Orang yang bermimpi tidak lupa dan mengingati apa yang dilihatnya, dan mampu menceritakannya dari awal sehingga habis, termasuk perincian perkara-perkara di dalam mimpinya.
Mimpi itu biasanya pendek dan berkisar tentang satu tajuk.
Allah & Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam Mimpi-Mimpiku
Bandung, 25 Mei 2022/1443H
﷽
Ust Saiful Nizam (Malaysia). Dr. Jaya Munawar. Ust Tommy Albanjari.
Agar saling melengkapi & kita mendapat gambaran lebih luas/lengkap, kita tampilkan 3 pendapat, yang kalau kita cermati sebetulnya satu arah.
Penakwil ;
Ust Saiful Nizam (Malaysia). Dr. Jaya Munawar. Ust Tommy Albanjari.
A. HASIL TAKWIL UST SAIFUL NIZAM ;
Mimpi ini secara umum menunjukkan 4 zaman yang dilalui oleh Tuan Sayyid Qasim.
Zaman ke 1 Dalam mimpi ini saya melihat sebuah bukit kecil dan saya harus mendaki bukit ini dan mengucapkan Adzan. Saya juga ditemani oleh beberapa orang. * Melihat bukit bererti usaha yang perlu beliau tempohi. “Tidak boleh tidak” ianya tetap perlu ditempuh kerana ianya sebuah tanggungjawab untuk memimpin ummah yang tidak dapat melihat kebenaran berkaitan tanda tanda kiamat. Salah satu tanda itu adalah diri beliau sendiri untuk diperkenalkan kepada seluruh umat. * Azan itu bermaksud usaha beliau menyeru umat manusia secara keseluruhannya. Perjalanan usaha beliau ketika zaman ini, hanya menyebarkan mimpi mimpi beliau. Ianya adalah seruan tentang janji janji Allah. * Di peringkat awal ketika beliau menyeru umat ini usahanya dibantu dan diikuti oleh segolongan manusia biasa yang sedikit. Mereka terdiri dari kalangan orang orang yang mempercayai mimpi beliau.
Saat saya berjalan menuju bukit ini, awalnya saya bingung karena saya belum pernah melakukan ini, tetapi saya merasa bahwa saya telah diperintahkan untuk mengumandangkan Adzan. Jadi dengan ragu-ragu saya terus berjalan menuju bukit. * Memahami bahawa dirinya telah diletakkan amanah atau perintah untuk menyebarkan mimpi yang dikurniakan sebagai “AlBusyra”. Sedangkan beliau sendiri menyedari keadaan diri sendiri yang serba kekurangan. Beliau tiada kebolehan dan keupayaan untuk menyeru umat, namun kerana tanggungjawab ianya tetap diteruskan.
Ketika saya sampai di puncak bukit dan memulai Adzan. Ketika saya memulai dengan ‘Allahu Akbar Allahu Akbar’ Adzan saya tidak terdengar profesional (seperti Adzan yang dilantunkan di masjid-masjid yang memiliki nada bacaan yang indah). * Berada dipuncak bukit bererti usaha awal beliau berjaya diterima walaupun ianya dilakukan dengan serba kekurangan. Namun apa yang diserukannya semata mata untuk melihat kehebatan Allah bukan dirinya. Allah itulah Yang Maha Hebat. Seruan dari mimpi beliau untuk memandang kehebatan Allah, kerana Allah berhak memilih sesiapa sahaja walaupun pilihan itu dipandang lemah. Ini adalah peringkat pertama dakwah beliau kepada umat untuk memandang kepada kehendak Allah bukan kepada dirinya. (Ulasan tambahan, sekiranya kita memandang kepada dirinya ianya akan menjadi hijab untuk melihat apakah sebenarnya maksud yang perlu disampaikan)
Zaman ke 2 Namun seiring saya melanjutkan membaca Adzan, mencapai bagian Asyhadu an Laa ilaha illAllah, Asyhadu anna Muhammad arRasulullah itu terus menjadi lebih baik dan profesional. * Ini merupakan zaman kedua setelah usahanya dibantu oleh khalifah Bani Tamim. Seruan beliau menjadi bertambah baik dan mula dipercayai selayaknya sebagai seorang mubassyiran. Seseorang yang mentaati Allah dan rasulNya tuntutan berikutnya adalah mentaati Amir atau khalifah umat. Zaman ini adalah zaman sebelum beliau diangkat sebagai khalifah umat. Zaman untuk membawa umat bersatu di bawah khalifah. Inilah zaman usaha agama mula menyebar terus kepada umat secara keseluruhan baik muslim atau bukan muslim.
Zaman ke 3 Ketika saya melafalkan bagian ‘Hayalas Salah Hayalal Falah’ saya melakukannya dengan nada profesional seperti di masjid. Kemudian saya melihat bahwa lebih banyak orang beragama di bawah bukit mulai memperhatikan Adzan saya dan mereka tampak terkesan. * Ini adalah zaman ketika beliau mula menjadi khalifah (imam) yang memimpin umat ini. Zaman ujian berat bermula, sesiapa yang mengikutinya akan selamat dan sesiapa yang mengingkarinya akan gagal. * Menyeru kepada lafaz Sholah bermaksud menyeru untuk mengislahkan diri dengan mengorbankan segala sesuatu supaya tawajuh hati hanya kepada Allah dan bertawakal kepada Allah. Tawakal terus hanya kepada Allah walau apa juga keadaan. Hanya dengan mendapatkan bantuan Allah setiap sesuatu dibukakan jalan keluar. Manakala membantu agama Allah dengan sabar dan solat itulah jalan untuk mendapatkan bantuan Allah. * Menyeru kepada falah bermaksud menyeru kepada huruj untuk berjihad Fisabilillah, janji Allah terdapat pada mereka yang menegakkan agama Allah.
Zaman ke 4 Saya akhirnya mengucapkan ‘Allahu Akbar Allahu Akbar, La ilaha illAllah’ dengan cara yang indah dan profesional, kemudian terlintas di benak saya bahwa akhiran Adzan ini terdengar seperti yang dilakukan ratusan tahun yang lalu di Mekah, ketika Adzan pertama terjadi di Mekah. Mimpi Berakhir * Ini adalah zaman kegemilangan Islam dikembalikan keseluruh alam. Zaman selepas segala ujian berat berakhir. Agama dapat diamalkan secara sempurna mirip kepada yang telah dihidupkan semasa zaman sahabat hidup bersama Rasullullah ﷺ. Agama yang sempurna akan tersebar keseluruh alam, sehingga seluruh alam mendapat rahmat Allah untuk menikmati agama. (Ulasan tambahan agama sekarang ini terasa seperti terpaksa untuk diamalkan, hanya segelintir sahaja yang hampir dengan Allah merasakan kenikmatan dalam agama. Namun zaman ke 4 ini kenikmatan agama tersebut dirasakan secara umum) ۞ إِنْ شَاءَ ٱللَّٰهُ, مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ, لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ أَعْلَمُ أَنَّ الله عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ, وَ أَنَّ الله قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْئٍ عِلْمًا ۞.
B. TAKWIL DR. JAYA
Menurut ibnu sirrin: Simbol sesorang pemimpi adzan adalah: orng tersebut akan dipanggil menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Azan di Bukit: maka empunya mimpi akan mendapatkan kekuasaan sejauh suara nya terdengar oleh mereka (orang telah sampai mimpi2nya) Wallohu alam bi sawab). Jadi sebentar lagi waktu nya…
Ustādz Abū Sa‘ad mengatakan bahwa jika seseorang bermimpi adzan sekali atau dua kali, lalu iqamah dan shalat fardhu, Allah s.w.t. menganugerahkannya kemampuan untuk beribadah haji dan ‘umrah. Hal ini karena Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Ḥajj ayat 27: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji….”
Juga karena di ‘Arafah dilakukan adzan dan iqāmah masing-masing dua kali.
Jika bermimpi seolah-olah adzan di menara, dia akan menjadi orang yang menyeru kepada kebenaran dan dia dapat berharap untuk dapat berhaji.
Jika bermimpi adzan padahal kenyataannya dia bukan mu’adzdzin, dia akan memiliki kekuasaan yang luasnya sejauh wilayah yang terjangkau suara adzan bila dia pantas menerimanya. Jika bermimpi adzan di atas bukit, dia akan mendapat kekuasaan dari orang buta.
Mimpi nya akan diterima oleh semua orang yg tidak pernah mengengar/melihat mimpinya (buta)
C. TAKWIL OLEH UST. TOMMY ALBANJARI
Mimpi ini bertakwil bahwa Apa yg beliau harapkan selama ini akan segera Berhasil, Pasti akan Berhasil. Dan keberhasilan yg beliau capai, tdk luput dari pada bantuan orang-orang yang senantiasa setia bersama beliau, itulah makna Beliau Menaiki bukit bersama beberapa orang.
Ada pun adzan itu isyarat, Bahwa “Siapa saja (Bagi Non Helper) yang ingin Berhasil seperti apa yang Kami capai. Maka Perhatikanlah apa-apa yang kami lakukan”.
Yakni inilah yg harus di lakukan: “Tidak apa-apa jika kita tidak mampu Mengagungkan kemaha besaran Allah (Di masa sekarang), sebagaimana yg di lakukan oleh Orang2 pilihan dalam hal Ibadah mau pun pengetahuan”, ini Makna Kalimat Takbir pertama yang tidak pro.
Kalimat ini juga menunjukkan masa di awal2 penyebaran Mimpi.
“Namun Tetaplah jalankan Agama (Kewajiban), sembari menguatkan Tauhid dan menghindari syirik, agar menjadi hamba yang lebih baik”, Ini makna dua Kalimat Syahadat. Dan kalimat ini menunjukkan masa-masa kita sekarang ini.
“Dan Akhirnya Lihatlah, Sekarang kami telah memperoleh Kemuliaan, keberkahan, kesejahteraan, dan kejayaan”, inilah makna dua kalinat haya ‘alash sholah dan haya ‘alal falah.
Dan kalimat ini menunjukkan masa-masa yg akan datang,yakni saat Sayyid qasim menjadi pemimpin pakistan.
Pada saat itu akan banyak orang yang berdatangan Kepada Sayyid Qasim, setelah menyaksikan keberhasilan Beliau dalam memimpin pakistan, itulah makna orang2 beragama yg memperhatikan beliau adzan di bawah bukit.
“Sekarang Sudah Saatnya, bagi kita Menganggungkan Kemaha Besaran Allah dengan sebenar-benarnya Pengagungan. Karena Sekarang (Yakni Di zaman kepemimpinan Sayyid Qasim sbg Khalifah) Hanya Kalimat Tauhidlah yang patut di tinggikan (Sebab Seluruh Negeri islam sudah terbebas dari pada Syirik) “inilah makna kalimat adzan terakhir yg di lakukan dengan indah dan pro.
Dan ini juga menunjukkan masa-masa beliau yg menjadi khalifah yakni pemimpin Muslim seluruhnya.
Dan Akan ada masa di mana Sayyid Qasim, mengenang keadaan-keadaan yg telah beliau lewati ini, yang membuat beliau terkesan padahal semuanya hanyalah berawal dari sebuah Mimpi,itulah makna kalimat “…Adzan ini terdengar seperti yg di lakukan ratusan tahun yg lalu…” Wallahu a’lam
Contoh isi beberapa hadits nya ; 1). Hadits Nasai, Nomor 1108; “Rasulullah ﷺ suatu saat menyingkap tirai, dan kepalanya dililit (diperban) dengan kain karena sakit -yang akhirnya menyebabkan beliau meninggal dunia- lalu beliau Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: ‘Ya Allah, telah kusampaikan – tiga kali -, sesungguhnya tidak tersisa lagi kabar kenabian kecuali mimpi yang benar, yakni mimpi yang dilihat atau diperlihatkan kepada seorang hamba”. (Artinya Kabar kenabian masih ada dalam bentuk mimpi dan akan diterima oleh seorang hamba). 2). Shahih Bukhari, nomor 6475; Rasulullah ﷺ bersabda: “Kenabian tidak ada lagi selain berita gembira, ” para sahabat bertanya; ‘apa maksud kabar gembira? ‘ Nabi ﷺ menjawab; “mimpi yang baik.” (Artinya Kabar kenabian itu masih ada dalam bentuk mimpi dan isinya bukan syariat baru, namun hanya berupa berita gembira). 3). Sunan Ibnu Majah hadis nomor 3887; Rasulullah ﷺ bersabda: “Mimpi yang benar adalah bagian dari tujuh puluh (70) bagian kenabian.” 4). Sunan Abu Daud hadis nomor 742 ; Beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya berita gembira kenabian telah tiada, kecuali mimpi yang shalih (benar) yang di mimpikan oleh seorang muslim atau yang di perlihatkan kepadanya. 5). Shahih Muslim hadis nomor 738; “Rasulullah ﷺ membuka tirai penutup, sedangkan manusia bershaf-shaf di belakang Abu Bakar, maka beliau bersabda, ‘Wahai manusia, tidak tersisa dari pemberi kabar kenabian melainkan mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya.” 6). Sunan Nasai hadis nomor 1035; “Rasulullah ﷺ suatu saat menyingkap tirai, sedangkan orang-orang sedang shalat di belakang Abu Bakar Radliyallahu’anhu, maka beliau ﷺ bersabda: ‘Wahai manusia, tidak tersisa lagi kabar kenabian kecuali mimpi yang benar, yakni mimpi yang dilihat atau diperlihatkan kepada seorang muslim.”